Breaking News:

Virus Corona

Sebuah Studi Ungkap Kasus Covid-19 di Wuhan Mungkin 10 Kali Lebih Tinggi dari Laporan Pertama

Sekira 4,4 persen dari 11 juta penduduk kota Wuhan disebut telah mengembangkan antibodi terhadap virus yang menyebabkan Covid-19 pada April 2020.

STR / AFP
Foto yang diambil pada tanggal 15 Agustus 2020 ini menunjukkan orang-orang menonton pertunjukan sambil mendinginkan diri di kolam renang di Wuhan di provinsi Hubei tengah China pasca lockdown panjang karena Covid-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah studi oleh Otoritas Kesehatan di Wuhan menerangkan, jumlah kasus virus corona di kota tempat patogen pertama kali terdeteksi mungkin 10 kali lebih tinggi dari angka resmi.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Penyakit China (CDC), sekitar 4,4 persen dari 11 juta penduduk kota Wuhan disebut telah mengembangkan antibodi terhadap virus yang menyebabkan Covid-19 pada April 2020.

Data tersebut berkolerasi dengan sekira 480.000 infeksi di Wuhan pada April 2020 atau hampir 10 kali lipat dari penghitungan resmi hingga saat ini dari 50.000 kasus di kota.

France24 melaporkan, China telah menghadapi rentetan kritik di dalam dan luar negeri atas penanganan awal virus corona.

Baca juga: Zhang Zhan Jurnalis Tiongkok yang Liput Puncak Wabah Virus Corona Wuhan Dipenjara 4 Tahun

Ribuan warga Wuhan China pesta di taman air setelah melewati lockdown panjang karena Covid-19.
Ribuan warga Wuhan China pesta di taman air setelah melewati lockdown panjang karena Covid-19. (AFP/straitstimes.com)

Tiongkok juga dikritik atas upaya mereka membungkam pelapor dan tidak melaporkan kasus apa pun selama berhari-hari di awal Januari 2020.

Pada Senin (28/12/2020), jurnalis Zhang Zhan dijatuhi hukuman penjara empat tahun karena melaporkan kondisi di dalam Wuhan selama puncak wabah.

Perbedaan yang diungkapkan data CDC mungkin "menunjukkan potensi kasus yang tidak dilaporkan karena kekacauan pada akhir Januari dan awal Februari, ketika sejumlah besar orang tidak diuji atau tidak diuji secara akurat untuk Covid-19," kata Huang Yanzhong, seorang rekan senior untuk kesehatan global di Council on Foreign Relations (CFR), kepada AFP.

Rabu kemarin (30/12/2020), Qin Ying, seorang ahli serologi dari CDC mengatakan kepada AFP bahwa perbedaan data tidak hanya terjadi di China.

"Beberapa negara telah menerbitkan survei serologis serupa dan dalam banyak kasus, jumlah orang dengan antibodi terhadap virus corona beberapa kali lebih tinggi daripada jumlah kasus yang dikonfirmasi," kata Qin.

"Jadi perbedaan semacam ini adalah fenomena yang tersebar luas," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Gigih
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved