Krisis Myanmar
Jurnalis Myanmar Ditahan Setelah Lakukan 'Live' saat Polisi Serang Apartemennya
DVB mengatakan tidak tahu senjata atau peluru apa yang ditembakkan tetapi diyakini polisi mengancam wartawan.
Seperti dilansir Reuters Rabu (3/3/2021), aparat keamanan Myanmar menambaki para demonstran dan menewaskan empat orang selama aksi protes menentang kudeta militer pada Rabu (3/3/2021), demikian para saksi dan media melaporkan.
Tindakan brutal aparat keamanan junta militer terjadi sehari setelah dorongan diplomatik regional dari negara-negara ASEAN untuk mengakhiri krisis yang terjadi selama sebulan ini.
Dua orang tewas dalam aksi protes di kota terbesar kedua Mandalay, seorang saksi dan laporan media mengatakan.
Kemudian satu orang tewas ketika polisi menembaki demonstran di kota utama Yangon, kata seorang saksi di lokasoi kejadian.
Korban keempat ditembak dan dibunuh di kota pusat Myingyan, kata aktivis mahasiswa Moe Myint Hein (25).
"Mereka menembaki kami dengan peluru tajam. Satu tewas, dia masih muda, seorang remaja laki-laki, ditembak di kepala," unjar Moe Myint Hein, yang terluka di kaki, kepada Reuters melalui telepon.
Seorang juru bicara dewan militer yang berkuasa tidak menjawab panggilan telepon untuk memberikan keterangan terkait insiden terjadi.
Tindakan kekerasan terbaru ini datang sehari setelah para menteri luar negeri dari negara-negara tetangga Asia Tenggara mendesak untuk semua pihak menahan diri dan menyerukan junta militer untuk membebaskan pemimpin pemerintah yang digulingkan Aung San Suu Kyi serta memulihkan demokrasi.
Setidaknya 24 orang tewas sejak kudeta pada 1 Februari lalu, yang mengakhiri langkah Myanmar menuju pemerintahan demokratis dan memicu aksi protes nasional dan kecaman internasional.
Pasukan keamanan juga menahan sekitar 300 demonstran saat mereka membubarkan asksiprotes di Yangon, kantor berita Myanmar Now melaporkan.
Salah satu aktivis mengatakan beberapa pemimpin aksi protes termasuk di antara mereka yang ditangkap aparat keamanan.
Video yang diposting di media sosial menunjukkan antrean panjang pemuda, tangan di kepala, masuk ke truk militer saat polisi dan tentara berjaga-jaga. Reuters tidak dapat memverifikasi rekaman tersebut.
Demonstran juga turun ke jalanan di Negara Bagian Chin di barat, Negara Bagian Kachin di utara, Negara Bagian Shan, di timur laut, wilayah tengah Sagaing dan selatan, kata media dan penduduk.
"Kami bertujuan untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun di negara ini yang menginginkan kediktatoran," kata Salai Lian, seorang aktivis di Negara Bagian Chin, kepada Reuters.
Monywa Gazette melaporkan lima orang terluka di kota pusat itu ketika pasukan keamanan menembakkan amunisi tajam. Ada laporan penembakan dan korban luka-luka yang masih belum dikonfirmasi jumlahnya di pusat kota lain, Magway.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/terbaru-18-demonstran-myanmar-tewas.jpg)