Breaking News:

Liga Arab dan Palestina Kutuk Pembukaan Kantor Diplomatik Ceko di Yerusalem

Kementerian Luar Negeri Ceko mengatakan itu dimaksudkan untuk memperkuat kemitraan strategis Praha dengan Israel dan meningkatkan layanan warganya

CNN
Republik Ceko mengumumkan pembukaan kembali konsul kehormatan di Yerusalem Barat. (Reuters/Artho Viando) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, RAMALLAH - Otoritas Palestina dan Liga Arab mengutuk pembukaan kantor diplomatik Republik Ceko di Yerusalem.

Pembukaan Kedutaan Besar ini dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional.

Praha membuka kantor cabang Kedutaan Besarnya untuk Israel, di Yerusalem, pada Kamis (11/3/2021).

Peresmian ini dihadiri oleh Perdana Menteri Ceko Andrej Babis, dua minggu setelah Israel mengirim 5.000 dosis vaksin Moderna CovidO-19 ke Republik Ceko di bawah program "diplomasi vaksin," yang kemudian mendpat pengawasan hukum dan dibekukan.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (14/3/2021), Kementerian Luar Negeri Palestina menyebut langkah Praha sebagai "serangan terang-terangan terhadap rakyat Palestina dan hak-hak mereka, pelanggaran hukum internasional yang sangat penting." Bahkan langka Ceko itu diniai akan membahayakan prospek perdamaian dua negara.

Baca juga: Sidang Korupsi Terhadap PM Israel Netanyahu Dilanjutkan di Yerusalem

Di Kairo, Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengatakan dalam sebuah pernyataan, "Status hukum Yerusalem akan dipengaruhi oleh keputusan satu negara atau negara lain untuk membuka kantor perwakilan. Yerusalem Timur adalah tanah yang diduduki berdasarkan hukum Internasional."

Menggarisbawahi bahwa kantor Yerusalem bukanlah kedutaan besar, Kementerian Luar Negeri Ceko mengatakan itu dimaksudkan untuk memperkuat kemitraan strategis Praha dengan Israel dan meningkatkan layanan bagi warga Ceko di sana.

"Pembentukan kantor tidak berdampak pada kemauan Republik Ceko untuk lebih mengembangkan hubungan politik dan ekonomi dengan Otoritas Palestina," ujar Perdana Menteri Ceko Andrej Babis.

Status Yerusalem adalah salah satu isu paling pelik dalam konflik Israel-Palestina yang telah berusia puluhan tahun. Israel mencaplok bagian timur kota dalam sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional, dan menganggap seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Baca juga: Israel dan AS Murka, Pengadilan Kriminal Internasional Bakal Selidiki Kejahatan Perang di Palestina

Sementara Palestina berjuang Yerusalem Timur, yang direbut Israel dengan Tepi Barat dan Gaza dalam Perang Timur Tengah 1967, sebagai ibu kota negara merdeka di masa depan.

Babis menggambarkan Israel sebagai "mitra strategis" dan memuji kantor baru itu sebagai "tonggak sejarah dalam kerja sama."

Hanya dua negara yang memiliki kedutaan penuh di Yerusalem, Amerika Serikat - setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengambil kebijakan penting AS selama beberapa dekade untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kemudian disusul Guatemala. (Reuters)

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved