Vladimir Putin Peringatkan Kekuatan Asing agar Tak Lintasi 'Garis Merah' Rusia
Presiden Vladimir Putin lewat pidato kenegaraan tahunannya menyerukan agar Moskow siap untuk menanggapi dengan keras setiap provokasi asing.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan antara Rusia dan Barat semakin melebar.
Presiden Rusia, Vladimir Putin lewat pidato kenegaraan tahunannya menyerukan agar Moskow bersiap menanggapi dengan keras setiap provokasi asing.
Putin yang berbicara kepada pejabat tinggi dan legislator dari kedua majelis parlemen Rusia, menegaskan agar pemerintahnya berusaha untuk memiliki hubungan baik dengan negara lain.
Ia pun berharap tidak ada negara asing yang akan melewati 'garis merah' Kremlin.
Baca juga: Dokter Sebut Kritikus Vladimir Putin, Alexei Navalny Bisa Meninggal di Penjara dalam Beberapa Hari
Baca juga: Vladimir Putin Tandatangani UU yang Memungkinkannya Jadi Presiden 2 Periode Lagi hingga 2036

“Kami ingin hubungan baik dan benar-benar tidak ingin merusak jembatan,” kata Putin, seperti dilansir Tribunnews dari Al Jazeera.
"Tapi jika seseorang salah mengartikan niat baik kita sebagai ketidakpedulian atau kelemahan dan berniat untuk membakar bahkan meledakkan jembatan ini, mereka harus tahu bahwa tanggapan Rusia akan asimetris, cepat dan kasar."
Komentarnya muncul ketika hubungan Rusia-Barat jatuh ke posisi terendah pasca-Perang Dingin.
Ini juga terkait kritikus Alexey Navalny yang dipenjara dan kebuntuan yang berkelanjutan atas konflik yang membara di negara tetangga Ukraina.
Moskow telah mendapat kecaman keras dari kekuatan Barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa, sejak awal tahun atas penanganan kasus Navalny.
Dalam beberapa pekan terakhir, hubungan memburuk karena kekhawatiran di Kyiv dan ibu kota sekutunya atas peran Moskow dalam peningkatan permusuhan di wilayah Donbas yang dilanda konflik.
Kyiv dan Moskow saling menyalahkan atas meningkatnya bentrokan di daerah itu, tempat pasukan Ukraina memerangi pasukan separatis yang didukung Rusia sejak pemberontak merebut sebagian wilayah di sana pada April 2014.
Ukraina, sekutu Baratnya, dan NATO menuduh Rusia merekayasa pembangunan "provokatif" puluhan ribu pasukan di sepanjang perbatasan bersama di wilayah tersebut serta di Krimea, yang dianeksasi Rusia dari Ukraina pada Maret 2014.
Kremlin telah membantah memainkan peran apapun dalam konflik di Donbas dan menggambarkan pergerakan pasukannya di sepanjang perbatasan barat dengan Ukraina dan di Krimea sebagai pertahanan, menambahkan unit militer akan tetap di posisi selama Moskow mau.
Baca juga: Rudal Rusia Hancurkan Kamp ISIS di Palmyra, Moskow Klaim 200 Teroris Tewas
Baca juga: Minsk dan Moskow Gagalkan Plot Kudeta di Belarusia

Masalah Virus Corona
Meskipun Putin secara singkat menyinggung urusan luar negeri dalam pidatonya, ia memfokuskan pidatonya selama 78 menit pada masalah domestik.