Breaking News:

Lebaran 2021

Beli Kue Lapis Banyak untuk Kerabat di Serawak, Warga Malaysia Kecewa Tak Bisa Mudik

Pemerintah Malaysia kembali memberlakukan pembatasan perjalanan antar negara bagian dan antar distrik bagi warganya

Malaysia Mail
Siti dan Rohani merayakan Lebaran bersama keluarga. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Malaysia kali ini tidak berbeda dengan tahun lalu, saat pandemi virus corona (Covid-19) baru melanda negara itu.

Kali ini, Pemerintah Malaysia kembali memberlakukan pembatasan perjalanan antar negara bagian dan antar distrik bagi warganya, termasuk bagi mereka yang beragama Islam dan hendak 'balik kampung'.

Dikutip dari laman Malay Mail, Kamis (13/5/2021), bagi Azamri Dollah, seorang Manajer Sumber Daya Manusia (SDM) yang berasal dari Kuching, Sarawak, 2021 menjadi tahun kedua dirinya tidak dapat 'pulang' untuk merayakan Hari Raya bersama keluarganya.

Baca juga: Serangan Jet Tempur Israel Makin Membabi Buta, Korban Meninggal di Gaza Naik Jadi 83 Orang

Meskipun hal ini membuatnya merasa kecewa dan frustrasi, ia memahami alasan dibalik penerapan tindakan drastis itu.

Baca juga: Turki Desak Umat Islam Tegas soal Konflik Israel-Palestina: Tak Bersikap Berarti Terlibat Kekerasan

"Ini adalah tahun kedua saya harus kembali 'merindukan' perayaan Hari Raya bersama keluarga saya. Meskipun saat ini kami memiliki teknologi untuk melepas kangen, tapi itu tidak sama dengan momen di mana saya berada di sana secara fisik bersama keluarga saya," kata Azamri.

Baca juga: Pahitnya Perayaan Idul Fitri di Malaysia, Siti Rohani Dua Kali Berpisah dari Ibunya yang Renta

Laki-laki berusia 34 tahun itu pun menjelaskan bahwa dirinya kini tidak terlalu merasa sedih, karena ia menyadari bahwa perpisahan ini hanya bersifat sementara saja dan untuk kebaikan dirinya serta keluarganya pula.

"Namun untuk saat ini, saya hanya perlu menahannya sebentar. Ini juga untuk keselamatan keluarga saya, terutama jika melihat jumlah kasus Covid-19 yang terjadi beberapa minggu ini," jelas Azamri.

Kendati demikian, ia menilai bahwa penanganan terhadap pandemi saat ini di negara itu tidak lebih baik dari tahun lalu.

"Tahun lalu, kami menangani Covid-19 dengan baik karena kami memiliki perencanaan yang baik. Sekarang, semuanya menjadi kacau dan berantakan, kasus harian tidak dapat dikendalikan saat ini," tegas Azamri.

Karena menurutnya, seharusnya pemerintahan saat ini bisa menetapkan pedoman yang aman bagi orang untuk bepergian, berdasar pada kasus yang terjadi tahun lalu dan tradisi warga Muslim Malaysia yang selalu 'balik kampung' selama Hari Raya.

"Mereka (pemerintah) sudah tahu dari tahun lalu bahwa orang Malaysia tidak akan menunda rencana liburan Hari Raya. Pemerintah seharusnya bertindak lebih cepat, 'jika anda ingin memberlakukan MCO, terapkan saat anda tahu itu tidak mengganggu kepentingan orang. Dan demi kebaikan, jangan sampaikan pengumuman di menit-menit terakhir'," papar Azamri.

Dia membeberkan, sebenarnya dirinya telah membuat rencana untuk merayakan Hari Raya bersama beberapa kerabatnya di Sarawak pada tahun ini, namun dirinya terpaksa harus membatalkannya karena aturan MCO ini.

"Di Sarawak, kami merayakan Raya dengan sedikit berbeda, selain ketupat dan rendang, kami juga punya kue lapis. Tahun ini saya memesan banyak (kue lapis) untuk perayaan yang telah saya rencanakan dengan teman-teman saya itu, namun sekarang semuanya hanya ditaruh begitu saja di rumah saya tanpa ada yang memakannya," pungkas Azamri.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved