Breaking News:

Kena Serangan Cyber, Perusahaan Pengolahan Daging JBS Bayar Rp 156,8 Miliar sebagai Tebusan

Perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia, JBS yang terkena serangan cyber beberapa waktu lalu, kini telah membayar Rp 156,8 miliar uang tebusan.

Patrick HAMILTON / AFP
Kantor JBS Foods Australia utara terlihat saat matahari terbenam di Dinmore, barat Brisbane, pada 1 Juni 2021, setelah anak perusahaan AS dari perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia mengatakan telah diretas, melumpuhkan beberapa operasinya dan berdampak pada ribuan pekerja di Australia. 

TRIBUNNEWS.COM - Perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia, JBS yang terkena serangan cyber beberapa waktu lalu, kini telah membayar uang tebusan sebesar 1 juta dolar Amerika atau setara dengan Rp 156,8 miliar.

Jaringan komputer di JBS telah diretas minggu lalu, pihak terkait lantas menutup sementara beberapa operasi di Australia, Kanada, dan AS.

Melansir BBC, JBS mengatakan perlu membayar (uang tebusan) untuk melindungi pelanggannya.

Baca juga: Produksi Daging di Amerika Utara & Austalia Terganggu, JBS Brasil Salahkan Rusia atas Serangan Cyber

Baca juga: Perusahaan Pemasok Daging Terbesar di Dunia, JBS Jadi Sasaran Serangan Cyber

Kantor JBS Foods Australia utara terlihat saat matahari terbenam di Dinmore, barat Brisbane, pada 1 Juni 2021, setelah anak perusahaan AS dari perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia mengatakan telah diretas, melumpuhkan beberapa operasinya dan berdampak pada ribuan pekerja di Australia.
Kantor JBS Foods Australia utara terlihat saat matahari terbenam di Dinmore, barat Brisbane, pada 1 Juni 2021, setelah anak perusahaan AS dari perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia mengatakan telah diretas, melumpuhkan beberapa operasinya dan berdampak pada ribuan pekerja di Australia. (Patrick HAMILTON / AFP)

Dalam serangan ransomware, peretas masuk ke jaringan komputer dan mengancam akan menyebabkan gangguan atau menghapus file, kecuali tebusan dalam mata uang kripto dibayarkan.

Pembayaran uang tebusan itu dilaporkan dilakukan menggunakan Bitcoin setelah pabrik kembali online.

"Ini adalah keputusan yang sangat sulit yang dibuat bagi perusahaan kami dan bagi saya secara pribadi," kata CEO JBS Andre Nogueira.

Perusahaan menambahkan bahwa mereka membayar uang itu karena serangan tersebut 'sangat canggih'.

Meski menerima serangan cyber, sebagian besar pabriknya tetap beroperasi.

Namun, perusahaan terpaksa menghentikan penyembelihan sapi di semua pabriknya di AS selama sehari.

Gangguan itu mengancam pasokan pangan dan mempertaruhkan harga pangan yang lebih tinggi bagi konsumen.

Baca juga: Strategi Jitu New York Menarik Wisatawan Jepang Vaksinasi di Amerika Serikat

Baca juga: Massa Pro-Palestina di Washington Minta AS Hentikan Bantuan ke Israel hingga Ancam Lawan Politisi

Pabrik Pemrosesan JBS tidak aktif setelah menghentikan operasinya pada 1 Juni 2021 di Greeley, Colorado. Fasilitas JBS di seluruh dunia terkena dampak serangan ransomware, yang memaksa banyak fasilitas mereka ditutup.
Pabrik Pemrosesan JBS tidak aktif setelah menghentikan operasinya pada 1 Juni 2021 di Greeley, Colorado. Fasilitas JBS di seluruh dunia terkena dampak serangan ransomware, yang memaksa banyak fasilitas mereka ditutup. (Chet Strange/Getty Images/AFP)
Halaman
12
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Arif Fajar Nasucha
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved