Breaking News:

Virus Corona

Jepang Butuh 3.000 Spesialis Penyakit Menular yang Disertifikasi Asosiasi

Keterlambatan dalam penelitian penyakit menular juga menyebabkan keterlambatan dalam pengembangan vaksin dan agen terapeutik.

Foto Jiji
Profesor DR Kazuhiro Tateda, guru besar Universitas Toho, Fakultas Kedokteran, Ahli Penyakit Menular Penyakit Dalam, Kedokteran Penyakit Menular, Keperawatan Dasar, Bakteriologi Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Hingga saat ini ada sekitar 1.600 spesialis penyakit menular yang disertifikasi oleh Asosiasi Ahli Penyakit Menular Jepang. Sementara yang dibutuhkan sebanyak 3.000 orang.

"Sebenarnya, dibutuhkan sekitar 3.000 orang ahli, tetapi tidak akan bertambah dengan mudah," ungkap Profesor DR Kazuhiro Tateda, guru besar Universitas Toho, Fakultas Kedokteran, Ahli Penyakit Menular Penyakit Dalam, Kedokteran Penyakit Menular, Keperawatan Dasar, Bakteriologi Jepang, Sabtu (17/7/2021).

Pihaknya akan mengadakan kursus penyakit menular di sekolah kedokteran universitas untuk melatih spesialis penyakit menular dan membuat sistem di mana orang-orang itu memainkan peran sentral dalam penyakit menular, pengendalian penyakit dan perawatan medis penyakit menular.

"Kita harus melakukannya," kata Profesor Tateda.

Secara khusus, apa yang harus dilakukan?

"Misalnya, pemerintah harus memutuskan bahwa departemen penyakit menular harus dibuat di rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur atau lebih. Jika spesialis penyakit menular berkonsultasi dengan pasien di departemen lain, rumah sakit akan dikenakan biaya medis dan pemerintah akan bayar."

"Jika ada mekanisme seperti itu, Anda dapat menyewa spesialis penyakit menular. Sebaliknya, ketika sesuatu terjadi, Anda akan diminta untuk mengambil tindakan terhadap penyakit menular tidak hanya di rumah sakit tetapi juga di sebuah daerah," jelasnya.

Keterlambatan dalam penelitian penyakit menular juga menyebabkan keterlambatan dalam pengembangan vaksin dan agen terapeutik.

"Universitas harus melakukannya, bukan hanya perusahaan farmasi," katanya.

Baca juga: Peta Sebaran 51.952 Kasus Corona di 34 Provinsi Indonesia: DKI Jakarta Sumbang 10.168 kasus

Halaman
123
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved