Breaking News:

Instansi Pemerintah di Sejumlah Negara Termasuk Indonesia Jadi Target Serangan Siber

teknologi kapal selam dan mobil self-driving, informasi penelitian seperti demam berdarah Ebola dan sindrom MERS, dan lainnya menjadi sasaran.

Foto McAfee Blog
Ilustrasi hackers (peretas) internet. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Indonesia, khususnya jaringan internet lembaga pemerintah ternyata ikut jadi sasaran kelompok serangan siber (cyber) China yang didukung penuh pemerintah China.

"Sasaran kelompok siber ternyata termasuk Indonesia, bukan hanya Jepang saja," papar sumber Tribunnews.com, Selasa (20/7/2021).

Sasarannya adalah instansi pemerintah seperti Indonesia, Amerika Serikat, Austria, Kamboja, Kanada, Jerman, dan Jepang, serta industri seperti penerbangan, pertahanan, dan perawatan medis.

Dikatakan bahwa teknologi kapal selam dan mobil self-driving, informasi penelitian seperti demam berdarah Ebola dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), dan lainnya menjadi sasaran.

Kementerian Kehakiman AS menuduh bahwa mereka terlibat dalam kegiatan sistematis untuk meluncurkan serangan siber terhadap perusahaan dan lembaga pemerintah di seluruh dunia dari 2011 hingga 2018.

Dan empat pejabat Kementerian Keamanan Nasional China mengatakan serta mengakui bahwa mereka bersalah melakukan konspirasi untuk penipuan komputer.

Diumumkan bahwa itu didakwa oleh grand juri federal di California Barat.

Baca juga: Jepang Kecam Serangan Siber Berbagai Kelompok yang Didukung Pemerintah China

"Serangan itu difokuskan pada informasi yang akan memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi sektor komersial dan bisnis pemerintah China," kata Kementerian Kehakiman AS, Senin (19/7/2021).

Menurut Kementerian Kehakiman, keempatnya diyakini warga China dan tinggal di China, dan belum ditahan.

Tiga orang adalah pejabat organisasi lokal Kementerian Keamanan Nasional China, dan satu bekerja sebagai peretas.

Kementerian Keamanan Nasional mengatakan telah mendirikan perusahaan depan (front company) untuk menyembunyikan keterlibatannya dengan pemerintah China dalam serangan siber, dan tiga pejabat mengatakan perusahaan itu mengelola peretas.

Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa (UE), Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), dan Jepang mengeluarkan pernyataan pada tanggal 19 Juli kemarin yang menuduh China mempekerjakan peretas untuk meluncurkan serangan dunia maya di seluruh dunia.

Kementerian Luar Negeri Jepang juga telah merilis wacana juru bicara yang mengatakan "sangat mendukung" pernyataan itu.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang) dan upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved