Rabu, 3 Juni 2026

Konflik di Afghanistan

Jenderal Afghanistan Sebut Trump, Biden, dan Ashraf Ghani Pengkhianat, Ini Sosoknya

Sosok jenderal Afghanistan, Sami Sadat, yang menyebut Trump, Biden, dan Ashraf Ghani sebagai pengkhianat.

Tayang:
Twitter @SayedSamiSadat
Jenderal tentara Afghanistan, Sami Sadat (kiri), bersalaman dengan tentara AS. Foto ini diunggah Sadat di Twitter pribadinya pada 22 April 2021. 

"Ia bukan seseorang yang memberi perintah dari balik layar saat bersembunyi di humvee."

"Ia akan melakukan apa saja untuk pasukannya," imbuhnya.

Sami Sadat Beberkan Bagaimana Pasukannya Bertempur Melawan Taliban

Pasukan tentara Afghanistan
Pasukan tentara Afghanistan (Twitter @SayedSamiSadat)

Sami Sadat merinci bagaimana pasukan militer negaranya tidak seperti yang dipikirkan dunia selama ini.

Dalam opininya tersebut, Sadat mengatakan tentara Afghanistan kehilangan keinginannya untuk berperang karena "rasa ditinggalkan" oleh pasukan Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Ashraf Ghani Akhirnya Muncul, Bantah Kabur dari Afghanistan, Klaim Diusir tanpa Sempat Ganti Sepatu

Baca juga: SOSOK Mullah Abdul Ghani Baradar, Pemimpin Taliban yang Pulang Kampung setelah 20 Tahun Pengasingan

Diketahui, setelah Taliban menguasai Afghanistan, Minggu (15/8/2021), dunia mempertanyakan efisiensi tentara negara itu.

Dikutip dari Hindustan Times, Sadat menuturkan pasukannya menghadapi kronisme dan birokrasi.

Namun saat Presiden Joe Biden mengatakan pasukan AS tak harus berjuang untuk Afghanistan, tentara Afghanistan kehilangan keinginan untuk berperang.

"Saya seorang jenderal bintang tiga di Angkatan Darat Afghanistan. Selama 11 bulan sebagai komandan 215 Korps Maiwand, saya memimpin 15.000 orang dalam operasi tempur melawan Taliban di Afghanistan barat daya."

"Saya telah kehilangan ratusan perwira dan tentara. Itu sebabnya saya merasa lelah dan frustrasi, saya ingin menunjukkan sudut pandang lain dan membela kehormatan Angkatan Darat Afghanistan."

"Saya di sini bukan untuk membebaskan Angkatan Darat Afghanistan dari kesalahan. Tetapi kenyataannya, banyak dari kami bertempur gagah, berani, dan terhormat, hanya untuk dikecewakan oleh kepemimpinan AS dan Afghanistan," bebernya.

Lebih lanjut, Sadat menyebut ia berada dalam pertempuran di Lashkar Gah saat Ashraf Ghani menunjuknya sebagai komandan pasukan khusus Afghanistan.

Ia harus meninggalkan pasukannya untuk datang ke Kabul.

Saat itu tanggal 15 Agustus, sudah terlambat karena Taliban telah mencapai Kabul.

Kemudian Ghani mempercayakan Sadat dengan tugas mengamankan Kabul dan sang presiden pun meninggalkan Afghanistan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved