Breaking News:

Krisis Myanmar

Khawatir Keselamatan Mereka, Aung San Suu Kyi Tak Akan Ajukan Saksi Pembela

Pemimpin demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, tidak akan mendatangkan saksi pembela dalam persidangannya, diduga karena khawatir keamanan mereka

Editor: hasanah samhudi
STR / AFP
Dalam foto file yang diambil pada 17 Juli 2019 ini, Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi berbicara selama upacara pembukaan Pusat Inovasi Yangon di Yangon. Pemimpin sipil Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi terkena dua dakwaan pidana baru ketika dia muncul di pengadilan melalui tautan video pada 1 Maret 2021, sebulan setelah kudeta militer yang memicu protes besar-besaran tanpa henti 

TRIBUNNEWS.COM, YANGON - Pemimpin demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi tidak akan mengajukan saksi pembela dalam persidangan terhadap dirinya.

“Aung San Suu Kyi dan mantan presiden Win Myint tidak akan mendatangkan saksi dalam pembelaan mereka,” kata pengacaranya Khin Maung Zaw, Selasa (5/10/2021), setelah prasidang terakhir dalam persidangan dengan dakwaan penghasutan.

Khin Maung mengatakan, Aung San Suu Kyi dijadwalkan untuk bersaksi dalam persidangan pada 26 Oktober.

Richard Horsey dari kelompok Krisis Internasional mengatakan Aung San Suu Kyi pasti mengkhawatirkan keselamatan siapa pun yang akan dia panggil sebagai saksi pembela.

Aung San Suu Kyi diadili pada bulan Juni, empat bulan setelah dia ditahan dalam kudeta yang memicu protes demokrasi besar-besaran.

Baca juga: Aung San Suu Kyi akan Diadili pada 1 Oktober Mendatang Terkait Tuduhan Korupsi

Baca juga: Pemimpin Myanmar yang Dikudeta, Aung San Suu Kyi Absen Persidangan karena Mabuk Perjalanan

Wanita berusia 76 tahun itu menghadapi serangkaian tuduhan, mulai dari penghasutan hingga mengimpor walkie-talkie secara ilegal, yang bisa membuatnya dipenjara selama beberapa dekade.

Di bawah tahanan rumah sejak kudeta, satu-satunya hubungan peraih Nobel ini  ke dunia luar adalah melalui pertemuan pra-sidang dengan pengacaranya.

Junta telah mengancam untuk membubarkan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San dan terus melancarkan kampanye berdarah melawan lawan-lawan kekuasaannya.

Jurnalis AS

Dalam persidangan terpisah, seorang jurnalis Amerika yang dipenjara sejak Mei telah dikenai dakwaan pidana kedua, kata pengacaranya kepada AFP.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved