Breaking News:

Pusat Kanker Nasional Jepang Upayakan Kerja Sama Dengan RS di Indonesia

Pusat Kanker Nasional Jepang (NCC) saat ini sedang mengupayakan kerjasama dengan sebuah rumah sakit di Indonesia.

Foto Richard Susilo
Kenichi Nakamura MD, PhD, Direktur Departemen Pengembangan Klinikal Internasional, CMO Kantor Pendukung Riset Klinikal, Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Pusat Kanker Nasional Jepang (NCC) saat ini sedang mengupayakan kerja sama dengan sebuah rumah sakit di Indonesia.

"Kita sudah dapatkan persetujuan mengenai kerahasiaan kesepakatan bersama bulan Mei 2021. Menunggu kerjasama (MOU) dengan rumah sakit tersebut yang telah kami kirimkan sejak Juli 2021," papar Kenichi Nakamura MD, PhD, Direktur Departemen Pengembangan Klinikal Internasional, CMO Kantor Pendukung Riset Klinikal, Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Jepang (NCC) khusus kepada Tribunnews.com sore ini (1/11/2021).

 NCC saat ini dengan dana dari pemerintah Jepang sedang membuat database "kanker langka", yang memiliki sedikit pasien, sulit untuk melakukan uji klinis, dan sulit untuk mengembangkan metode pengobatan.

Pusat Kanker Nasional telah mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan database yang mengumpulkan informasi tentang gen pasien bekerja sama dengan institusi medis di lima negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia,  dan berharap untuk mengembangkan pengobatan untuk kanker langka yang umum di Asia.

Basis data ini diluncurkan bersama oleh National Cancer Centre Hospital dan 10 institusi medis di lima negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia,  Thailand, dan Vietnam.

Masalah dengan kanker langka seperti kanker masa kanak-kanak, sarkoma, dan tumor otak adalah sulitnya uji klinis karena jumlah pasien yang sedikit, dan metode pengobatan terbatas karena pengumpulan informasi genetik yang tidak memadai.

Untuk mengumpulkan informasi tentang gen pasien Asia dengan karakteristik serupa di database setelah mendapatkan persetujuan, institusi medis yang berpartisipasi akan mengembangkan metode pengobatan baru seperti obat-obatan sesuai dengan karakteristik genetik pasien.

"Kami berencana untuk melanjutkan uji klinis internasional serta bekerjasama dengan berbagai perusahaan farmasi global, termasuk 8 perusahaan farmasi Jepang," lanjutnya.

Data 2000 pasien di Jepang sudah terdaftar, dan diharapkan data lebih dari 1000 pasien dari masing-masing negara akan terdaftar setiap tahun di masa mendatang.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved