Vaksin Covid: Cara Jepang mengubah keraguan terhadap vaksinasi menjadi keberhasilan
Hanya dalam beberapa bulan pemerintah Jepang dapat menggencarkan vaksinasi Covid, bagaimana caranya?
Tapi hal itu tak diperkirakan sebelumnya.
Ketakutan melawan keragu-raguan
Jepang telah lama mengalami keragu-raguan dalam hal vaksinasi. Pada Januari, survei menunjukkan mayoritas penduduk merasa skeptis terhadap vaksin Covid yang baru dikembangkan.
Lantas apa yang terjadi?
Sejumlah ahli berpendapat kekacauan pada tahap awal sebenarnya berdampak positif.
"Pada awalnya, terdapat kekurangan suplai vaksin," kata Profesor Kenji Shibuya, direktur riset di Tokyo Foundation for Policy Research. "Hal itu mendorong semacam mentalitas kelangkaan, khususnya di kalangan penduduk usia lanjut."
Menurut Profesor Shibuya, ketakutan itu mendorong tingkat vaksinasi sangat tinggi, terutama di kalangan usia lanjut. Mereka tahu bagaimana penduduk usia lanjut di negara-negara lain sekarat, bersusah payah mendapatkan vaksinasi, sebelum suplai menipis.
Permulaan vaksinasi yang lambat ini menyebabkan kelompok umur muda harus menunggu, sembari menyaksikan jutaan warga di negara-negara lain mendapat vaksinasi, tanpa efek samping dramatis. Faktor itu membuat mereka yakin bahwa vaksin aman.
Faktor utama lain yang membedakan dengan Amerika Serikat dan Eropa adalah program vaksinasi ini tidak menjadi masalah politik.
"Kami tidak mengalami politisasi di sini," kata Profesor Shibuya. "Masalah ini tidak dilihat dari kacamata kebebasan atau hak individu. Masyarakat tidak terjebak ke dalam teori konspirasi."
Seiring dengan peningkatan vaksinasi, Jepang mengalami penurunan dramatis dari segi penularan dan kematian akibat Covid.
Pada tanggal 20 Agustus, Jepang mencatat hampir 26.000 kasus baru, jumlah harian tertinggi sejak awal pandemi.
Menjelang pekan lalu, jumlah itu turun menjadi 150 per hari. Angka kematian juga menurun drastis, bahkan selama beberapa hari tidak ada laporan kematian sama sekali.
Vaksinasi menjadi faktor sangat penting. Tapi bukan satu-satunya faktor.
Bahkan sebelum warga divaksinasi, tingkat kematian akibat Covid di Jepang berbeda jauh dibanding kematian di Eropa atau Amerika Serikat (AS).