Breaking News:

Virus Corona

Jepang Laporkan Kasus Pertama Varian Omicron

Setelah nyaris 'mengalahkan' varian virus corona Delta, Jepang telah melaporkan kasus pertama varian Omicron pada Selasa waktu setempat.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Pusat Penelitian Virus di Universitas Glasgow
Protein lonjakan Omicron dengan mutasi baru terlihat dalam warna merah, biru, emas dan hitam. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Setelah nyaris 'mengalahkan' varian virus corona (Covid-19) Delta, Jepang telah melaporkan kasus pertama varian Omicron pada Selasa waktu setempat.

Media lokal mengatakan pasien merupakan seorang diplomat dari Namibia.

Namun Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno enggan menyebutkan kewarganegaraan pasien tersebut.

Baca juga: Muncul Varian Omicron, Hambat Target Indonesia Bebas AIDS 2030

"Infeksi itu terdeteksi pada seorang laki-laki berusia 30-an yang telah tiba dari Namibia," kata Matsuno.

Ia menyampaikan bahwa pasien saat ini dirawat di fasilitas medis.

Dikutip dari laman Russia Today, Selasa (30/11/2021), sebelumnya The Japan Times mengutip sumber pemerintah yang menyebut pasien merupakan seorang diplomat Namibia yang dites positif Covid-19 di Bandara Narita dekat Tokyo setelah tiba di sana pada hari Minggu lalu.

Baca juga: Aturan Baru Perjalanan Internasional Menyusul Temuan Omicron: WNI Wajib Tunjukkan Kartu Vaksin

Jepang pun telah menutup perbatasan bagi semua pelancong asing pada Selasa dalam upaya untuk mencegah penyebaran varian Omicron yang diyakini para ilmuwan berpotensi lebih menular dan kebal vaksin dibandingkan varian sebelumnya, termasuk Delta.

Omicron kali pertama tercatat di Afrika Selatan pada awal bulan ini dan ditetapkan sebagai varian yang menjadi perhatian oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat lalu.

Sejak saat itu, strain ini telah mencapai Eropa, Asia, Amerika Utara dan Australia.

Jepang pun sebenarnya telah berhasil secara drastis mengurangi beban kasus harian varian Delta pada pertengahan November ini, karena aturan Covid-19 yang ketat dan tingkat vaksinasi yang tinggi.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved