Konflik Rusia Vs Ukraina

Invasi Rusia ke Ukraina Bisa Memicu Bencana Pangan Global

Yara International Svein Tore Holsether mengatakan perang di Ukraina akan berdampak pada pasokan pangan global dan biaya pengirimannya.

AFP/GENYA SAVILOV
Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di blok apartemen bertingkat tinggi yang dilanda penembakan baru-baru ini di Kyiv pada 26 Februari 2022. - Tentara Ukraina memukul mundur serangan Rusia di ibu kota, kata militer pada 26 Februari setelah Presiden Volodymyr Zelensky yang membangkang bersumpah pro -Negara Barat tidak akan tunduk pada Moskow. Ini dimulai pada hari ketiga sejak pemimpin Rusia Vladimir Putin melancarkan invasi skala penuh yang telah menewaskan puluhan orang, memaksa lebih dari 50.000 orang meninggalkan Ukraina hanya dalam 48 jam dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di Eropa. (Photo by GENYA SAVILOV / AFP) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, LONDON – CEO Yara International Svein Tore Holsether mengatakan perang di Ukraina akan berdampak pada pasokan pangan global dan biaya pengirimannya.

Dikutip dari BBC, Senin (7/3/2022) Yara International, yang beroperasi di lebih dari 60 negara, membeli sejumlah besar bahan baku penting dari Rusia.

Saat ini harga pupuk sudah tinggi karena melonjaknya harga gas.

Baca juga: Dampak Perang Rusia-Ukraina bagi Indonesia, Harga Mi Instan hingga Pupuk Bisa Melonjak

Svein Tore Holsether juga telah memperingatkan situasinya bisa menjadi lebih sulit.

"Segalanya berubah setiap jam," katanya kepada BBC.

"Kami sudah berada dalam situasi yang sulit sebelum perang dan sekarang ini ada gangguan tambahan pada rantai pasokan dan kami mendekati bagian terpenting musim ini untuk belahan bumi utara, di mana banyak pupuk harus dipindahkan. Dan itu kemungkinan besar akan terpengaruh." imbuhnya.

Rusia dan Ukraina adalah produsen terbesar di bidang pertanian dan pangan secara global.

Baca juga: Rusia Invasi Ukraina, Harga Pupuk dan Gandum Diprediksi Naik, Bagaimana dengan Harga BBM ?

Rusia juga memproduksi seperti kalium dan fosfat yang merupakan bahan utama dalam pembuatan pupuk.

"Setengah dari populasi dunia mendapat makanan dari pupuk dan jika itu dihilangkan dari ladang untuk beberapa tanaman, hasilnya akan turun 50 persen," kata Holsether.

"Bagi saya, ini bukan soal apakah kita sedang bergerak ke dalam krisis pangan global - melainkan seberapa besar krisis itu nantinya." tambahnya.

Perusahaannya telah terkena dampak konflik setelah sebuah rudal menghantam kantor Yara di Kyiv. Beruntung 11 staf tidak mengalami luka-luka akibat kejadian itu.

Perusahaan yang berbasis di Norwegia ini tidak secara langsung terkena sanksi terhadap Rusia, tetapi harus menghadapi dampaknya.

Hanya beberapa jam setelah Holsether berbicara kepada BBC, pemerintah Rusia mendesak produsen untuk menghentikan ekspor pupuk.

Dia menunjukkan sekitar seperempat dari nutrisi utama yang digunakan dalam produksi makanan Eropa berasal dari Rusia.

Sejumlah besar gas alam dibutuhkan untuk menghasilkan amonia, bahan utama dalam pupuk nitrogen. Yara International bergantung pada sejumlah besar gas Rusia untuk pabriknya di Eropa.

Perubahan iklim dan pertumbuhan populasi telah menambah tantangan yang dihadapi sistem produksi pangan global.

Kepala eksekutif Yara International menggambarkan perang sebagai "bencana di atas bencana", menyoroti betapa rentannya guncangan rantai pasokan makanan global saat ini.

“Ini akan meningkatkan kerawanan pangan di negara-negara miskin.” pungkasnya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved