Konflik Rusia Vs Ukraina
Analisis Pakar Politik, AS dan Sekutunya Tak Pernah Belajar dari Penyerbuan Irak
Perang Irak telah menewaskan sebanyak satu juta orang Irak. Publik barat pun melupakan begitu banyak pelajaran yang seharusnya diambil.
TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Robert Inlakesh, seorang analis politik, jurnalis dan pembuat film dokumenter di London, Inggris, AS dan sekutu barat tak pernah mengambil pelajaran dari penyerbuan ke Irak pada 2003.
Inlakesh yang pernah tinggal di wilayah Palestina yang diduduki Israel, dan saat ini bekerja di Quds News, menyebut invasi AS ke Irak adalah perang yang dibangun di atas kebohongan.
Perang Irak telah menewaskan sebanyak satu juta orang Irak. Publik barat pun melupakan begitu banyak pelajaran yang seharusnya diambil dari bencana serangan ke Irak.
Membangun narasi guna mengesahkan keputusan menyerbu Irak, AS menarasikan melenyapkan Presiden Irak Saddam Hussein, diperlukan untuk perdamaian dunia.
Alasannya, Saddam Hussein menyimpan dan memiliki senjata pemusnah massal.
Saddam juga dituduh memiliki hubungan dengan Al-Qaeda yang diburu Washington pascaserangan 9/11 ke New York dan Washington.
Peryataan Perdana Menteri Tony Blair
Perdana Menteri Inggris Tony Blair (saat itu), bahkan menyamakan Saddam Hussein dengan Adolf Hitler. Sentimen anti-Timur Tengah pun saat itu juga sedang tinggi.
Presiden AS George W Bush (saat itu) lewat pidatonya mendeklarasikan “perang melawan terror” yang ia ibaratkan “perang salib”.
Baca juga: Militer Rusia Kirimkan 20 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Melitopol Ukraina
Baca juga: Seperti Apa Kehidupan di Donbass? Inilah Realitanya di Tengah Konflik Rusia-Ukraina
Terbukti kemudian, tidak ada satupun tuduhan ke Saddam Hussein yang benar. Ini terlepas dari kejahatan lain yang dilakukan Presiden Irak itu di masa sebelumnya, terutama ke etnis Kurdi dan lawan politiknya.
Namun, tanpa bukti, media barat pun setuju dan menarasikan invasi ke Irak sebagai perang yang adil. Padahal Komisi Ahli Hukum Internasional (ICJ) di Jenewa menyatakan perang itu pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.
Dalam dua bulan pertama invasi 'Shock and Awe' ke Irak, lebih dari 7.186 warga sipil Irak dikabarkan meninggal dunia.
Namun, pada saat itu, media barat merayakan kemenangan AS-Inggris seolah-olah tidak ada kematian dan kehancuran yang terjadi.
Mereka tidak pernah benar-benar menanyakan di mana senjata pemusnah massal (WMD) yang dimaksud AS.
Peter Van Buren, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang berbasis di Irak selama satu tahun, ditanya apakah media barat telah belajar dari Irak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pangkalan-udara-balad-irak.jpg)