Konflik Rusia Vs Ukraina

Moskow Tuding AS dan Inggris Ingin Perang Rusia-Ukraina Meluas ke Seluruh Daratan Eropa

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Amerika Serikat (AS) dan Inggris ingin meningkatkan konflik Rusia-Ukraina menjadi konfrontasi

Editor: Hendra Gunawan
AFP
Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) AS yang dipasok ke Ukraina. Rusia sebut AS dan Inggris ingin peperangan Rusia dan Ukraina Meluas ke Eropa 

TRIBUNNEWS.COM -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Amerika Serikat (AS) dan Inggris ingin meningkatkan konflik Rusia-Ukraina menjadi konfrontasi yang lebih besar antara Moskow dan Eropa.

“Rekan-rekan AS dan Inggris kami, dengan dukungan dari Jerman, Polandia, dan negara-negara Baltik, sangat ingin menjadikan perang ini perang nyata, mengadu Rusia melawan negara-negara Eropa,” kata Lavrov, berbicara kepada Pemimpin Redaksi RT Margarita Simonyan dan media Rusia lainnya, Sputnik.

Pemerintah Barat secara harfiah telah menahan Ukraina dari langkah konstruktif apa pun menuju penyelesaian damai.

Baca juga: UPDATE Perang Rusia Vs Ukraina Hari ke-147: Vladimir Putin Berkunjung ke Iran

Ia menyebut AS dan sekutunya tidak hanya membanjiri negara dengan senjata, tetapi juga "memaksa" Ukraina untuk menggunakannya dengan lebih berani.

Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin menjelaskan pada hari Selasa bahwa Rusia dan Ukraina dapat mengakhiri konflik mereka pada bulan Maret, jika Kiev tidak menarik diri dari negosiasi.

Dia tidak menjawab secara langsung apakah dia bersedia untuk bertemu dengan mitra Ukrainanya, Vladimir Zelensky, tetapi menyiratkan bahwa pertemuan akan sia-sia, pada tahap ini.

“Ada negosiasi yang terkenal di Istanbul, ketika kami benar-benar mencapai kesepakatan, satu-satunya yang tersisa untuk dilakukan adalah menandatanganinya,” kata Putin kepada wartawan pada hari Selasa, setelah bertemu dengan presiden Turki dan Iran di Teheran.

“Untuk menciptakan kondisi ini, pasukan kami menarik diri dari Ukraina tengah, dari Kiev, tetapi pihak berwenang Kiev menolak untuk menerapkan perjanjian in,” ujarnya.

Putin menyebut Ukraina tidak memiliki keinginan untuk melakukan pembicaraan.

Meski demikian, Putin berterima kasih kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atas upayanya untuk menegosiasikan kesepakatan damai di Ukraina, serta Arab Saudi dan Uni Emirat Arab karena menawarkan upaya mediasi.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved