Konflik Rusia Vs Ukraina

Uni Eropa Desak China dan India Dukung Pembatasan Harga Minyak Rusia

China dan India telah meningkatkan pembelian minyak Rusia, setelah invasi Moskow ke Ukraina, dengan memanfaatkan potongan harga yang diberikan Rusia.

Natalia KOLESNIKOVA / AFP
Pemandangan menunjukkan kilang minyak Moskow milik produsen minyak Rusia Gazprom Neft di pinggiran tenggara Moskow pada 28 April 2022. Uni Eropa mendesak China dan India agar bergabung dengan inisiatif Group of Seven (G7) untuk menetapkan pembatasan harga minyak Rusia. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, BALI - Uni Eropa mendesak China dan India agar bergabung dengan inisiatif Group of Seven (G7) untuk menetapkan pembatasan harga minyak Rusia.

Negara-negara G7 mengumumkan pada hari Jumat (2/9/2022) lalu, mereka telah menyetujui rencana untuk mengenakan pembatasan harga minyak Rusia.

Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi keuntungan yang diperoleh Rusia dari penjualan minyaknya. Selain itu, kebijakan ini juga dapat menjadi hukuman bagi Kremlin atas serangannya ke Ukraina.

Baca juga: UPDATE Perang Rusia-Ukraina Hari ke-193: PLTN Zaporizhzhia Terputus dari Aliran Listrik Utama

Rincian mengenai bagaimana penerapan batas harga ini akan bekerja sedang diselesaikan G7. Namun analis energi menyatakan keprihatinan atas rencana itu, khususnya mengenai ketersediaan konsumen minyak utama seperti China dan India untuk bergabung dengan G7 dalam menerapkan pembatasan tersebut.

China dan India telah meningkatkan pembelian minyak Rusia, setelah invasi Moskow ke Ukraina, dengan memanfaatkan potongan harga yang diberikan Rusia.

Komisaris Energi Eropa, Kadri Simson memberikan pendapatnya mengenai ketersediaan China dan India untuk membantu penerapan batas harga minyak Rusia yang telah diusulkan G7.

“Saya pikir mereka harus melakukannya. (China dan India) bersedia membeli produk minyak Rusia sambil memaafkan diri mereka sendiri bahwa ini penting untuk keamanan pasokan mereka. Tetapi tidak adil untuk membayar kelebihan pendapatan ke Rusia,” ujar Simson, yang dikutip dari CNBC, Minggu (4/9/2022).

Baca juga: Rusia Kembali Tunda Pembukaan Operasi Pipa Nord Stream 1, Eropa Dihantui Kiamat Energi Gas

Simson yang ditemui di sela-sela pertemuan energi Group of Twenty (G20) di Indonesia mengatakan batas harga minyak Rusia akan memberi kesempatan konsumen minyak menerima harga yang wajar.

“Jadi batasan juga memberi kesempatan kepada pembeli yang belum bergabung dengan sanksi kami untuk menerima minyak dengan harga yang wajar, harga di mana faktor perang tidak ditambahkan,” kata Simson.

Pada pekan lalu, Amerika Serikat mengungkapkan telah melakukan pembicaraan dengan India mengenai masalah ini. Sementara China mengatakan pada bulan Juli lalu, pembatasan harga adalah masalah yang sangat rumit.

Pembatasan harga minyak Rusia diperkirakan akan siap sebelum awal Desember tahun ini, ketika sanksi UE atas impor minyak mentah Rusia mulai berlaku.

Namun pelaku pasar bahan bakar harus menunggu untuk mendapat rincian lebih lanjut mengenai tingkat batas harga minyak Rusia.

Baca juga: Balas Sanksi Barat, Rusia Kembali Hentikan Aliran Gas Nord Stream 1 ke Eropa

“Batas harga awal akan ditetapkan pada tingkat berdasarkan berbagai masukan teknis dan akan diputuskan oleh koalisi penuh sebelum implementasi di setiap yurisdiksi. Batas harga akan dikomunikasikan kepada publik dengan cara yang jelas dan transparan,” kata G-7 dalam sebuah pernyataan bersama.

Namun Rusia menyatakan, pihaknya tidak akan menjual minyak ke negara-negara yang memberlakukan batas harga.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved