Menjalani Lockdown Covid-19 Selama 40 Hari, Penduduk Xinjiang China Mengeluh Kelaparan  

puluhan juta orang di China mengalami lockdown atau penguncian bergilir, melumpuhkan ekonomi dan membuat perjalanan atau transportasi terhambat

AFP/PETER PARKS
Rak-rak kosong di supermarket terlihat di Hong Kong pada 1 Maret 2022, karena pembelian panik kembali ke kota minggu ini dengan banyak rak supermarket dilucuti menyusul pesan beragam dari pemerintah mengenai apakah mereka merencanakan penguncian kota akhir bulan ini ketika tes semua penduduk. Penduduk di daerah otonomi Xinjiang, China mengatakan mereka mengalami kelaparan, kekurangan pasokan obat-obatan dan kebutuhan sehari-hari setelah menjalani lockdown Covid-19 lebih dari 40 hari. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Penduduk di daerah otonomi Xinjiang, China mengatakan mereka mengalami kelaparan, kekurangan pasokan obat-obatan dan kebutuhan sehari-hari setelah menjalani lockdown Covid-19 lebih dari 40 hari.

Melansir dari Associated Press, ratusan postingan penduduk di Ghulja, salah satu kota di Xinjiang, menunjukkan lemari pendingin mereka kosong, anak-anak demam dan orang-orang berteriak dari jendela mereka.

Kondisi tersebut mengingatkan pada lockdown ketat yang terjadi di Shanghai musim semi ini, saat ribuan penduduk memposting dan mengeluh mendapat bantuan sayuran busuk.

Baca juga: Pendapatan Bisnis Tes Covid-19 di China Naik di Tengah Perlambatan Ekonomi

Namun tidak seperti di Shanghai, kota besar dengan 20 juta penduduk dan menjadi rumah bagi banyak orang asing, lockdown ketat di kota-kota kecil seperti Ghulja kurang mendapat perhatian.

Di bawah strategi nol Covid, puluhan juta orang di China mengalami lockdown atau penguncian bergilir, melumpuhkan ekonomi dan membuat perjalanan atau transportasi terhambat.

Lockdown di Ghulja juga menimbulkan ketakutan akan sikap keras polisi kepada orang-orang Uighur, kelompok etnis Turki yang berasal dari Xinjiang.

Selama bertahun-tahun, wilayah tersebut telah menjadi target tindakan keras pihak keamanan, menjerat sejumlah besar warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya.

Lockdown sebelumnya di Xinjiang juga dinilai terlalu keras, dengan penduduk dipaksa dan disemprot dengan desinfektan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun, Dibayangi Ketegangan Pasar Akibat Lockdown China

Yasinuf, seorang warga Uighur yang menempuh pendidikan di sebuah universitas Eropa, mengatakan ibu mertuanya mengirim pesan suara yang mengkhawatirkan pada akhir pekan kemarin dengan mengatakan dia dipaksa datang ke karantina pusat setelah mengeluh batuk ringan.

Petugas yang mendatangi ibu mertua Yasinuf mengingatkannya akan suaminya yang dibawa ke kamp selama lebih dari dua tahun.

Pengetatan wilayah atau lockdown di China telah memicu naiknya indeks harga produsen (PPI) di bulan April hingga 8 persen, Rabu (11/5/2022).
Pengetatan wilayah atau lockdown di China telah memicu naiknya indeks harga produsen (PPI) di bulan April hingga 8 persen, Rabu (11/5/2022). (China Dialogue)

"Ini hari penghakiman. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi kali ini. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempercayai pencipta kita,” kata ibu mertua Yasinuf, dalam rekaman audio tersebut.

Pasokan makanan di Xinjiang juga semakin menipis. Yasinuf mengatakan orang tuanya memberi tahu bahwa mereka kehabisan persediaan makanan, meskipun telah menimbun pasokan sebelum lockdown. 

Tanpa pengiriman dan dilarang menggunakan oven di halaman belakang rumah karena takut menyebarkan virus, orang tua Yasinuf bertahan hidup dengan adonan mentah yang terbuat dari tepung, air dan garam.

Baca juga: China Lockdown 21 Juta Penduduk Kota Chengdu, Hanya 1 Orang per Rumah Boleh Pergi Keluar Belanja

Yasinuf menolak memberikan nama atau identitas keluarganya, karena takut mengancam keselamatan mereka.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved