Kamis, 7 Mei 2026

Jepang Segera Keluarkan Teknologi Tercanggihnya Deteksi Kanker Payudara Lewat Nafas Mulut

Dengan kecanggihan teknologi mutahir Jepang tersebut, setiap orang bisa dideteksi apakah memiliki kanker payudara atau tidak, hanya dengan meniup alat

Tayang:
Editor: Johnson Simanjuntak
Richard Susilo
Ilustrasi alat deteksi yang mirip seukuran lipstik untuk sekali pakai mendeteksi kanker payudara lewat pernafasan mulut 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebuah alat canggih hasil teknologi termodern dan tercanggih Jepang di bidang medis akan segera dikeluarkan di akhir tahun 2022 ini, dapat mendeteksi kanker payudara hanya lewat udara nafas mulut kita.

"Alat ini ukurannya seperti lipstik, sangat kecil dan akhir tahun ini akan ke luar perijinan dari kementerian kesehatan Jepang untuk segera dipasarkan di Jepang dan dunia. Tentu kita targetkan pula Indonesia nantinya," papar sumber Tribunnews.com Senin (10/10/2022).

Produk tersebut masih dirahasiakan namanya hingga saat ini (Red.: Tribunnews.com diminta tidak mengungkapkan namanya hingga produk dipasarkan nantinya).

Dengan kecanggihan teknologi mutahir Jepang tersebut, setiap orang bisa dideteksi apakah memiliki kanker payudara atau tidak, hanya dengan meniup alat  seukuran lipstik itu, udara mulut kita ditangkap alat itu, lalu alat ditutup, dideteksi, sekitar 15 menit ke luar hasilnya.

"Alat ini sangat baik bagi semua orang terutama wanita yang ingin mengetahui apakah terkena kanker payudara atau tidak dirinya."

Terlebih tambahnya lagi, kalangan muslimah yang mungkin sangat sensitif untuk disentuh, apalagi bagian sensitif tersebut.

"Dengan alat ini siapa pun bahkan kita bisa melakukan sendiri, tinggal masukkan ke mulut, tiup, ke luarkan udara mulut kita ke alat itu, lalu ditutup alat itu, berikan ke laboratorium klinik dan 15 menit kemudian sudah ke luar hasilnya, memiliki kanker payudara atau tidak. Jadi tidak sentuh badan kita, hanya ke mulut saja meniupkan udara mulut ke alat tersebut."

Saat ini jumlah penderita kanker payudara di Indonesia mungkin terdeteksi lebih rendah ketimbang angka Jepang dan di Eropa Amerika yang telah mencapai dua dijit, tambahnya.

"Dengan alat ini akan terjadi perubahan besar di bidang medis di Indonesia, jumlah penderita kanker payudara yang mungkin masih satu dijit bisa menjadi segera dua dijit dibandingkan populasi yang ada di Indonesia saat ini. Dengan terdeteksi jumlah penderita kanker payudara semua hal bisa menjadi positif di bidang medis bahkan menekan biaya pengobatan di Indoensia karena terdeteksi dini, dan kita bisa melakukan pengobatan preventif sejak awal di bidang medis, mengurangi biaya asuransi kesehatan di Indonesia."

Perusahaan Jepang (info@voc.bio) yang kini masih dalam proses perijinan di kementerian kesehatan Jepang itu memperkirakan akhir tahun ini perijinan ke luar dari pemerintah Jepang, sehingga alat dapat disebarluaskan segera di Jepang.

"Kemajuan teknologi bidang medis di Jepang ini merupakan dasar untuk antisipasi kanker di dunia, dimulai dengan pendeteksian kanker payudara. Bahkan dengan mudah nantinya dapat diketahui level rendah tingginya kanker yang telah diderita seseorang."

Demikian pula tambahnya, setelah terkumpul data kanker payudara dunia dengan bantuan teknologi AI (Artificial Intellegence) pula akan dapat mendeteksi kanker lainnya yang ada di tubuh manusia seperti bagian mulut, perut dan sebagainya.

"Jadi teknologi kami tidak akan lama lagi mudah-mudahan dapat mendeteksi secara awal kanker yang kemungkinan dimiliki oleh seorang manusia," paparnya lebih lanjut.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif.

Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved