Kamis, 7 Mei 2026

Pasang Surut Studi Tentang China, Kebangkitan RRC Perlu Kajian Kritis

Iklim demokrasi yang makin terbentuk di era reformasi ini membawa kebebasan bagi dilaksanakannya kajian tentang China di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Choirul Arifin
Podcast Universitas Indonesia
Profesor A. Dahana, guru besar purna bakti Studi China di Universitas Indonesia 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Studi mengenai Republik Rakyat China (RRC) di Indonesia kini dinilai jauh lebih berkembang jika dibandingkan di masa lalu, terutama saat masa Orde Baru karena perkembangan dinamika di dalam negeri dan luar negeri yang berubah cepat.

Iklim demokrasi yang makin terbentuk di era reformasi ini membawa kebebasan bagi dilaksanakannya kajian tentang China yang biasa disebut dengan istilah Sinologi yang semasa Orde Baru diawasi secara ketat oleh pemerintah.

Pada sisi lain, datangnya era yang disebut sebagai era kebangkitan China dan meningkatnya hubungan antara Indonesia dan China membuat studi sinologi makin dibutuhkan.

Pendapat tersebut disampaikan Profesor A. Dahana, guru besar purna bakti Studi China di Universitas Indonesia yang juga pendiri dari Forum Sinologi Indonesia (FSI), dalam sebuah seminar virtual  bertajuk “Sinologi di Indonesia: Sejarah, Perkembangan, dan Tantangannya di Masa Kini,” yang diselenggarakan oleh FSI, Senin 10 Juli 2023.

Selain Profesor A Dahana, seminar juga menghadirkan Prof Dr. Hermina Sutami, guru besar aktif pada program studi China Universitas Indonesia dan dipandu  Muhammad Farid, alumni studi China UI yang kini mengajar di Jurusan Hubungan Internasional President University.

Dalam paparannya, Dahana menyampaikan sejarah berdirinya disiplin sinologi tersebut. “Yang dapat kita sebut sebagai sinolog paling awal antara lain adalah Marco Polo, yang menceritakan tentang kehidupan di China semasa Dinasti Yuan kepada penduduk Genoa, saat ia menjadi tawanan di kota itu,” tutur Dahana.

Ia menyampaikan, penuturan Marco Polo tersebut belakangan dituliskan menjadi sebuah buku berjudul The Travels of Marco Polo oleh Rustichello.

“Belakangan, antara abad ke 15 hingga 18, para pekabar injil dari Eropa berdatangan ke China untuk memberitakan injil,” lanjutnya.

Menurut Dahana, di antara para misionaris tersebut terdapat Jesuit Matteo Ricci dan Michele Riggieri. Keduanya, menurut Dahana, patut disebut sebagai pelopor disiplin Sinologi.

Baca juga: Akademisi China: Artificial Intelligence Tingkatkan Kualitas Pengajaran Bahasa Mandarin

Namun pada saat itu, menurut penjelasannya, Sinologi belumlah terpisah dari upaya misi keagamaan. Barulah pada awal abad ke-20. sinolog Perancis terkemuka, Edouard Chavannes, memperkenalkan kuliah-kuliah sejarah China di College de France.

Sejak saat itu Sinologi sebagai suatu ilmu tersendiri lambat-laun berkembang dengan metodologi modern. Sesuai dengan zamannya, sasaran Sinologi pada masa awal itu adalah kebudayaan, sejarah kuno, dan karya-karya klasik Konfusianis dan aliran filsafat lainnya di China.

Studi mengenai China kembali mengalami perkembangan sejak berdirinya RRC dan perang dingin antara blok Barat dan Timur. Sinologi yang hanya menekankan pada sejarah, budaya dan filsafat China kuno dianggap kurang mengikuti perkembangan zaman.

Baca juga: China Kritik Keras Rencana Uni Eropa Blokir Semua Teknologi Huawei

Sebagai jawaban, sejak saat itu muncul studi yang mengangkat tema-tema sosial, ekonomi, dan politik China kontemporer. Berkaitan dengan berkembangnya fokus pada isu-isu kontemporer itulah muncul istilah Studi China (Chinese Studies), sebuah terminologi yang selama sekitar lebih dari 40 tahun kemudian lebih popular ketimbang istilah Sinologi.

Mengacu pada penjelasan Dahana, Sinologi juga mengalami perkembangan yang menarik di tanah air.

“Di Indonesia, kajian mengenai China mulai berkembang pada periode akhir zaman kolonial, khususnya sejak dasawarsa pertama abad yang lalu, ketika minat terhadap masalah-masalah China kontemporer mulai berkembang, terutama di kalangan orang-orang Tionghoa.

Munculnya minat tersebut dipengaruhi oleh perkembangan politik di negeri tersebut, khususnya setelah mencuatnya nama dua orang tokoh politik terkemuka, yaitu Kang Youwei dan Dr. Sun Yat-sen,” tutur Dahana.

Menurutnya, pada akhir dekade pertama abad yang lalu, di Batavia berdirilah asosiasi yang menamakan dirinya Soe Po Sia (Shubaoshe, secara harfiah berarti Ruang Baca), yang menjadi tempat berhimpunnya golongan muda etnik Tionghoa yang mengadakan diskusi-diskusi tentang segala perkembangan yang terjadi di China.

Sementara itu, kurang lebih pada waktu yang sama, Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan sebuah badan yang diberi nama Kantoor voor Chineesche Zaken (Kantor Urusan China), yang bertugas antara lain sebagai pemberi saran kepada pemerintah kolonial dalam berhubungan dengan masyarakat Tionghoa.

“Namun munculnya Sinologi di Indonesia sebagai suatu kegiatan akademik barulah terjadi setelah Perang Dunia II berakhir, setelah dua sarjana hukum Belanda, Prof. Dr. Van der Valk dan Dr. Mr. Meyer, mendirikan Sinologische Instituut (Lembaga Sinologi) dengan dibantu oleh Dr. R.P Kramers pada tahun 1947,” tutur Dahana.

“Sesuai dengan namanya, lembaga yang mereka dirikan itu bertujuan mendidik ahli-ahli China dalam tradisi Sinologi,” jelas beliau. Generasi pertama sinolog Indonesia yang dihasilkan oleh lembaga di atas kebanyakan berlatar belakang etnik Tionghoa, antara lain adalah Sie Ing Djiang, Li Chuan Siu, Tan Lan Hiang, dan Tan Ngo An.

“Belakangan, lembaga yang menjadi cikal bakal Program Studi China Universitas Indonesia itu diperkuat dengan kedatangan Profesor Tjan Tjoe Som, sinolog tamatan Universitas Leiden yang memilih mengabdi di negaranya, alih alih menjadi profesor di negeri Belanda,” tutur Dahana.

Profesor Tjan Tjoe Som dan sinolog Indonesia generasi pertama itulah yang melahirkan para sinolog-sinolog generasi berikutnya, termasuk Profesor Gondomono, Dr. Ignatius Wibowo, dan jurnalis senior Rene Pattiradjawane,” pungkas Dahana.

Baca juga: Indonesia Diminta Waspadai Gerakan China-Kamboja di Laut China Selatan

Namun Dahana menyayangkan kecenderungan akhir-akhir ini, seiring dengan era kebangkitan China, yang menurut beliau cenderung melemahkan Sinologi. “Kini makin banyak jurusan yang menamakan diri jurusan atau program studi China, namun hanya menitikberatkan pada pengajaran bahasa Mandarin,” pungkasnya.

Selain itu, Dahana juga menyatakan keprihatinan dengan kecenderungan pengamat-pengamat tertentu yang kehilangan sikap kritis dalam melakukan kajian terhadap China. “Padahal penting bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif tentang China, yang diperoleh melalui proses belajar yang kritis,” tuturnya.

Senada dengan Profesor Dahana, Profesor Hermina Sutami mengatakan bahwa studi China merupakan merupakan kegiatan ilmiah mempelajari negara Tiongkok/China di bidang tertentu.

Baca juga: Pembentukan Pusat Studi Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara di Kepri

Sedangkan sinologi merupakan ilmu pengetahuan di bidang tertentu mengenai negara China. Dalam pandangan beliau studi China atau sinologi saat ini menghadapi banyak tantangan. Antara lain bagaimana mempelajari bahasa Mandarin sesuai dengan fungsi mempelajari bahasa asing?

Fungsi tersebut, menurut Sutami, antara lain sebagai alat komunikasi dengan bangsa lain, mempercepat proses pembangunan bangsa dan negara Indonesia, serta memanfaatkan ilmu dan teknologi negara asing yang bahasanya dipelajari dalam menghadapi persaingan bebas.

Tantangan lainnya adalah bagaimana mengembangkan studi China guna memahami negara Tiongkok dari berbagai bidang ilmu agar terjalin hubungan harmonis antara Indonesia dengan Tiongkok.

Selain itu ketertkaitan sinilogi dan upaya agar terjalin hubungan harmonis antar orang Indonesia keturunan Tionghoa dan Non Tionghoa di Indonesia juga merupakan tantangan yang masih perlu dihadapi. 

Dalam konteks pembelajaran bahasa Mandarin, Sutami menekankan pentingnya mengembangkan metode pengajaran bahasa Mandarin untuk pembelajar Indonesia dengan memasukan local wisdom.

“Ini merupakan tantangan tersendiri yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya. Dalam pernyataan penutup, Ketua FSI Johanes Herlijanto menekankan pentingnya kesetaraan dalam hubungan Indonesia China.

Ketua FSI Johanes Herlijanto
Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto.

Kesetaraan itu, menurutnya dapat dicapai antara lain dengan terus memperoleh pemahaman yang obyektif dan kritis terhadap China. Johanes juga mendorong agar semakin banyak pelajar dan kaum terdidik di Indonesia turut serta mengembangkan kajian kritis terhadap China.

“Harapan kami agar baik orang Tionghoa maupun non Tionghoa semakin berminat mempelajari sinologi, sebuah kajian akademik yang menjadikan sejarah, sosial, politik, ekonomi, dan prilaku hubungan internasional China sebagai obyek studinya,” pungkas Johanes.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved