Suriname: Jika tak diselamatkan, bahasa Jawa 'bisa hilang dalam beberapa dekade'
Berbeda dengan makanan seperti saoto (soto) atau bami goreng (mi goreng), bahasa Jawa di Suriname mengalami 'kemunduran' dari tahun…
Sehari-hari ia menggunakan bahasa Jawa ngoko.
Ngoko adalah tingkatan bahasa yang terendah dalam bahasa Jawa, yang dipakai untuk berbicara dengan orang sudah akrab, dengan orang yang lebih rendah kedudukannya, atau dengan orang yang lebih muda.
Tak jauh dari rumah Mbak Sanikem, saya menemui Semoedi, generasi kedua pendatang asal Jawa, yang fasih berbahasa Jawa kromo. Ia lahir pada 1940, namun tampak gagah. Ingatannya juga masih tajam.
Pembicaraan menjelang petang ini mengupas beragam tema. Antara lain tentang keinginan melihat Pulau Jawa, yang ia sadari semakin tipis kemungkinannya untuk terwujud, seiring dengan usianya yang menginjak senja.
Ia juga mengatakan khawatir dengan nasib bahasa Jawa ke depan. Ia melihat makin sedikit anak-anak muda yang aktif berbahasa Jawa.
"Sulit [meminta kalangan muda menggunakan bahasa Jawa]. Contohnya, menantu saya. Dia paham jika saya berbicara bahasa Jawa. Namun sulit baginya untuk berbicara dalam bahasa Jawa. Demikian juga dengan cucu-cucu saya. Saya sudah mengajari mereka [berbicara bahasa Jawa] namun tidak mudah mendorong mereka menggunakan bahasa ini," kata Semoedi.
Pengguna bahasa Jawa makin rendah
Semoedi sendiri belajar bahasa Jawa sejak kecil dengan berguru kepada para orang tua di desanya. Ia mengatakan kunci untuk melestarikan bahasa Jawa adalah mendorong anak-anak muda untuk belajar dan aktif menggunakan bahasa ini.
"Nak mboten, bahasa Jawi meniko nggih ical (jika tidak, maka bahasa Jawa ini akan hilang)."
Perbincangan di Desa Tamanredjo dengan menggunakan bahasa Jawa kromo seperti ini sekarang sepertinya terbatas di kalangan orang-orang tua saja.
Generasi yang lebih muda lebih sering menggunakan bahasa Belanda dan Sranan Tongo, bahasa pengantar di Suriname.
Rudi, menantu Mbah Sanikem, mengatakan, "Di sini ada banyak kelompok etnik sehingga ketika kami berbicara dengan mereka, kata-kata yang kami pakai campur-campur. Ya, pakai bahasa Belanda, ya bahasa Sranan Tongo...."
Beberapa anak muda yang ditemui BBC News Indonesia di Pasar Saoenah, Paramaribo, mengatakan lebih sering menggunakan bahasa Belanda dan Sranan Tongo, dibandingkan bahasa Jawa.
Ernesto dan Kylie, dengan alasan berbeda, mengatakan hanya bisa berbahasa Jawa secara pasif.
"Saya tahu sedikit bahasa Jawa ... saya tinggal bersama nenek. Ia banyak berbicara bahasa Jawa namun saya berbicara dengannya dengan bahasa Belanda. Saya tak banyak belajar bahasa Jawa darinya," kata Ernesto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bbc-indonesia_130677379_dalangsapto.jpg.jpg)