Suriname: Jika tak diselamatkan, bahasa Jawa 'bisa hilang dalam beberapa dekade'
Berbeda dengan makanan seperti saoto (soto) atau bami goreng (mi goreng), bahasa Jawa di Suriname mengalami 'kemunduran' dari tahun…
Ia mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak merasa perlu bisa aktif berbahasa Jawa.
Baginya, cakap berbahasa Belanda dan Sranan Tongo sudah cukup. "Orang-orang yang berinteraksi dengan saya tidak berbicara dalam bahasa Jawa. Mereka menggunakan Belanda atau Sranan Tongo," kata Ernesto.
"[Tetapi] kalau ada orang-orang tua berbicara bahasa Jawa, saya paham. Jika mereka berbicara dalam bahasa Jawa, saya biasanya akan menjawab dalam bahasa Belanda," katanya.
Kylie mengatakan keluarganya lebih banyak menggunakan bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Ia mengatakan orang tuanya, sebelum menikah, juga tak sering memakai bahasa Jawa di keluarga masing-masing.
Akibatnya, paparan bahasa Jawa menjadi minimal. "Saya hanya bisa sedikit bahasa Jawa," kata Kylie.
Saat ditanya apakah dirinya khawatir suatu saat nanti bahasa Jawa akan hilang jika jumlah penuturnya makin sedikit, Kylie menjawab, "Iya, tentu saja. Saya menyesal [sebenarnya] karena tak bisa fasih berbahasa Jawa."
Kylie menambahkan bahwa ia punya keinginan untuk belajar bahasa Jawa. Ia sering mendengarkan lagu-lagu berbahasa Jawa dan akan lebih mengasyikkan jika ia paham lirik lagu-lagu tersebut, kata Kylie.
Upaya melestarikan bahasa Jawa di Suriname: Dari kursus hingga siaran radio
Lain halnya dengan Jean Paul Armani. Ia merasa beruntung karena keluarganya aktif berbicara bahasa Jawa. Dari sini ia banyak belajar, yang membuatnya cukup fasih menggunakan bahasa Jawa.
"Tidak paham 100%. Tetapi sebagian besar saya paham," kata Jean Paul. Seperti halnya keluarga Mbak Sanikem, Jean Paul hanya bisa berbahasa Jawa ngoko.
Jean Paul juga terbantu dengan siaran Radio Garuda, salah satu stasiun radio berbahasa Jawa di Suriname.
Radio Garuda didirikan pada 1996 untuk memperingati 105 tahun kedatangan orang-orang Jawa di Suriname.
Radio ini mengudara di frekuensi 105,7 yang sengaja dipilih untuk menggambarkan bahwa Radio Garuda didirikan 105 tahun dan tujuh bulan setelah kedatangan pertama pekerja kontrak dari Jawa pada 9 Agustus 1890.
Hingga 1996, tidak ada stasiun radio yang secara khusus melayani kebutuhan orang-orang Jawa. Saat itu, stasiun radio hanya menyediakan dua jam siaran dalam bahasa Jawa.
"Dua jam siaran dalam bahasa Jawa tentu kurang. Dadine kurang mantep (sehingga kurang mantap). Dengan adanya Garuda, masyarakat Jawa di sini bisa mendengarkan dan menonton acara dalam bahasa Jawa selama 24 jam setiap hari," kata Cindy Radji, direktur Radio dan Televisi Garuda kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bbc-indonesia_130677379_dalangsapto.jpg.jpg)