Siapa saja para pimpinan penting Hamas?
Mayoritas pemimpin Hamas jarang tampil di hadapan publik. Namun mereka memiliki pengalaman yang nyaris serupa: berulang kali menghadapi…
Memiliki jaringan di akar rumput, menguasai intelijen dan teknis, tingkat perencanaan yang terorganisir dan tepat, serta fokus pada penyerbuan pemukiman dan markas keamanan adalah berbagai hal yang melekat pada sosoknya.
Yahya Sinwar
Kepala biro politik Hamas di Jalur Gaza, Yahya Ibrahim Al-Sinwar, lahir pada tahun 1962.
Dia adalah pendiri dinas keamanan Hamas, yang dikenal dengan julukan “Majd,” yang mengelola masalah keamanan dalam negeri , seperti menyelidiki tersangka agen Israel serta melacak petugas intelijen dan badan keamanan Israel.
Sinwar beberapa kali ditangkap Israel. Yang pertama pada tahun 1982 dan pada suatu peristiwa saat pasukan Israel menahannya secara administratif selama empat bulan.
Pada tahun 1988, Israel menangkap Sinwar untuk ketiga kalinya. Dia dijatuhi hukuman empat kali penjara seumur hidup.
Saat Sinwar menjalani hukuman penjara, tank Israel yang dioperasikan Gilad Shalit ditembak serangan rudal Hamas. Tentara Israel itu lalu disandera oleh Hamas. Shalit disebut sebagai sosok yang disenangi oleh semua orang Israel. Oleh karena alasan itu, Israel disebut harus melakukan apa pun untuk membebaskannya.
Pembebasan ini terjadi melalui kesepakatan pertukaran tahanan yang disebut perlawanan “Loyalitas Kebebasan”, yang mencakup banyak tahanan dari gerakan Fatah dan Hamas. Salah satu tahanan asal Palestina yang turut ditukar dengan Shalit adalah Yahya Sinwar, yang dibebaskan pada tahun 2011.
Setelah bebas, Sinwar kembali ke posisinya sebagai pemimpin terkemuka gerakan Hamas dan anggota biro politiknya.
Pada bulan September 2015, AS memasukkan nama Sinwar ke dalam apa yang mereka sebut sebagai daftar hitam “teroris internasional”.
Pada 13 Februari 2017, Sinwar terpilih sebagai kepala biro politik gerakan tersebut di Jalur Gaza, menggantikan Ismail Haniyeh.
Abdullah Barghouti
Barghouti lahir di Kuwait pada tahun 1972. Dia pindah ke Yordania setelah Perang Teluk Kedua pada tahun 1990. Dia memegang kewarganegaraan Yordania, sebelum terdaftar menjadi mahasiswa di sebuah universitas di Korea Selatan untuk belajar teknik elektronik selama tiga tahun. Pendidikan itu menjadi dasar keahliannya membuat bahan peledak.
Barghouti tidak menyelesaikan studinya karena mendapat izin masuk ke Palestina.
Tak satu pun dari orang-orang di sekitarnya yang mengetahui kemampuannya di bidang pembuatan bahan peledak, hingga suatu hari ia membawa sepupunya, Bilal Al-Barghouthi, ke daerah terpencil di Tepi Barat dan menunjukkan keahliannya.
Bilal menceritakan komandannya apa yang dilihatnya. Abdullah Barghouthi lantas diundang untuk bergabung dengan barisan Brigade Al-Qassam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bbc-indonesia11cb2a50-690e-11ee-bd9f-271a093e676d.jpg.jpg)