Sabtu, 30 Agustus 2025

Konflik Palestina Vs Israel

Bombardir Sekolah-Rumah Sakit, Taktik Perang Apa yang Dijalankan Israel? Mau Potong Satu Generasi?

Keperkasaan Tentara Israel mereka pamerkan juga ke bocah=bocah, balita, bahkan bayi baru lahir. Israel ingin memotong satu genarasi warga Palestina?

AFP/HENRY NICHOLLS
Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera Palestina saat mereka memblokade pintu masuk pabrik BAE Systems selama protes yang dilakukan oleh 'Pekerja untuk Palestina Merdeka', menyerukan diakhirinya penjualan senjata ke Israel, dan mendukung gencatan senjata segera antara Israel dan Hamas, dekat Rochester, selatan Inggris timur pada 10 November 2023. (HENRY NICHOLLS / AFP) 

Bombardir Banyak Rumah Sakit, Taktik Perang Apa yang Dijalankan Israel? Mau Potong Satu Generasi?

TRIBUNNEWS.COM - Perang Gaza, yang pecah per 7 Oktober 2023 saat milisi pembebasan Palestina, Hamas menerobos perbatasan dan menyerang pemukiman Israel, menjadi panggung keperkasaan IDF, pasukan Israel.

Keperkasaan IDF itu ditunjukkan bukan cuma ke para milisi bersenjata, tetapi juga kepada bocah-bocah kecil, orang tua, pasien rumah sakit, bahkan bayi yang baru lahir.

'Hukuman kolektif', kata yang dipilih pemerintah Israel, dijalankan secara frontal, menyapu bersih Gaza Utara dengan bombardemen serangan udara, artileri berat, dan invasi pasukan barat ke semua fasilitas sipil.

Baca juga: 4 Rudal Burkan Buatan Iran oleh Hizbullah Porak-porandakan Markas Divisi Galilea Tentara Israel

Peluru dan Bom Serang Rumah Sakit 

Rencana itu belakangan mau mereka perluas ke Gaza Selatan, dearah yang mereka tunjuk sendiri untuk menjadi lokasi warga sipil Gaza Utara untuk mengungsi.

Di Gaza Utara, tank Israel secara beringas mendekati rumah sakit-rumah sakit Palestina.

Biasanya, para dokter dan staf medis diperingatkan kalau mereka harus pergi – dengan atau tanpa pasien yang membutuhkan. Serangan artileri menyusul, meski ribuan orang masih berada di dalam fasilitas kesehatan itu.

Senin kemarin, giliran RS Indonesia di Beit Lahia, Gaza. Setidaknya 12 orang tewas dalam serangan Israel terhadap fasilitas tersebut, bahkan ketika kendaraan lapis baja semakin mendekat ke rumah sakit.

Tapi itu hanyalah pusat medis terbaru yang menghadapi kemarahan tentara Israel.

Enam minggu setelah perang di Gaza, serangan Israel terhadap rumah sakit hampir menjadi motif konflik, meskipun kamp pengungsi, sekolah dan gereja juga tidak luput dari serangan tersebut.

Setidaknya 21 dari 35 rumah sakit di Gaza – termasuk pusat kanker di wilayah tersebut – tidak berfungsi sama sekali, dan yang lainnya rusak serta kekurangan obat-obatan dan persediaan penting.

Pada Minggu, 31 bayi prematur dievakuasi dari Rumah Sakit al-Shifa ke Rafah di selatan Jalur Gaza setelah berminggu-minggu diberi susu formula yang dicampur dengan air yang terkontaminasi, tanpa inkubator yang mati karena kekurangan bahan bakar akibat pengepungan Israel di daerah kantong tersebut sejak serangan Hamas 7 Oktober.

Setidaknya delapan bayi telah meninggal.

Pasukan Israel sebenarnya telah menduduki al-Shifa sejak pekan lalu setelah membombardir beberapa bagian rumah sakit.

Seperti rumah sakit lainnya di Gaza, al-Shifa melindungi ribuan warga sipil yang kehilangan tempat tinggal akibat pemboman Israel, selain pasien dan petugas medis.

Pada Jumat, militer Israel memperluas pendekatannya di Gaza hingga Tepi Barat yang diduduki, di mana kendaraan lapis baja mengepung setidaknya empat rumah sakit.

Rumah Sakit Ibnu Sina, salah satu yang terbesar di Tepi Barat, digerebek. Dan pada awal November, pasukan Israel menangkap beberapa pasien dan petugas mereka dari sebuah rumah sakit di Yerusalem Timur.

Petugas medis Palestina merawat bayi prematur yang dievakuasi dari rumah sakit Al Shifa ke rumah sakit Emirates di Rafah di Jalur Gaza selatan, pada 19 November 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hamas. Seorang pejabat tinggi kesehatan di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan seluruh 31 bayi prematur di rumah sakit Al-Shifa telah dievakuasi pada 19 November dari fasilitas yang digambarkan WHO sebagai zona kematian. (Photo by MOHAMMED ABED / AFP)
Petugas medis Palestina merawat bayi prematur yang dievakuasi dari rumah sakit Al Shifa ke rumah sakit Emirates di Rafah di Jalur Gaza selatan, pada 19 November 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hamas. Seorang pejabat tinggi kesehatan di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan seluruh 31 bayi prematur di rumah sakit Al-Shifa telah dievakuasi pada 19 November dari fasilitas yang digambarkan WHO sebagai zona kematian. (Photo by MOHAMMED ABED / AFP) (AFP/MOHAMMED ABED)

Mau Potong Generasi?

Namun mengapa Israel menargetkan rumah sakit Palestina?

Penyerangan fasilitas kesehatan, dalam perang sekalipun, menimbulkan kecaman dan kutukan dari banyak negara anggota PBB, organisasi hak asasi manusia terkemuka. Semua telunjuk kini menunjuk kalau Israel melakukan kejahatan perang.

Tudingan kejahatan perang Israel itu dibarengi juga oleh tuduhan lain kalau Israel memang melakukan genosida, memotong satu generasi warga sipil Palestina, kalau ada yang tersisa di Gaza.

Rumah sakit adalah fasilitas medis, tempat lahirnya banyak generasi baru, sekolahan adalah tempat di mana para calon generasi baru ditempa, dan kedua punya kesamaan identik, menjadi cikal-bakal penerus baru sebuah bangsa.

Dua fasilitas ini, seperti terlihat dalam perang yang sudah berlangsung selama sekitar 45 hari, menjadi sasaran-sasaran utama militer Israel.

Memotong generasi, dianggap sebagai cara instan mematahkan semangat perlawanan untuk beberapa dekade ke depan dan menciptakan stabilitas keamanan, hal yang diidamkan Israel di wilayah pendudukan.

Seekor kuda mati tergeletak di tanah ketika orang-orang berkumpul di sekitar ambulans yang rusak akibat serangan Israel yang dilaporkan di depan rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada 3 November 2023, ketika pertempuran antara Israel dan gerakan Hamas Palestina terus berlanjut. Menurut kepala layanan pers pemerintah Hamas, serangan tersebut menargetkan
Seekor kuda mati tergeletak di tanah ketika orang-orang berkumpul di sekitar ambulans yang rusak akibat serangan Israel yang dilaporkan di depan rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada 3 November 2023, ketika pertempuran antara Israel dan gerakan Hamas Palestina terus berlanjut. Menurut kepala layanan pers pemerintah Hamas, serangan tersebut menargetkan "konvoi ambulans yang sedang bersiap untuk mengangkut orang-orang yang terluka dari rumah sakit Al-Shifa" ke perbatasan dengan Mesir. Beberapa orang tewas dan terluka dalam serangan tersebut. (Photo by MOMEN AL-HALABI / AFP) (AFP/MOMEN AL-HALABI)

Biarkan Mereka Tahu, Tidak Ada Tempat yang Aman

Secara resmi, Israel bersikeras kalau mereka menargetkan fasilitas yang menampung pejuang atau infrastruktur Hamas.

Israel, misalnya, mengklaim Hamas menggunakan al-Shifa sebagai pusat komando.

Namun Hamas membantah klaim tersebut, dan beberapa hari setelah mengambil alih fasilitas tersebut, Israel tidak mampu memberikan bukti kuat untuk mendukung pernyataannya.

Rencana perluasan invasi ke Gaza Selatan, menjadi bukti tersahih yang menunjukkan kalau Israel memang tidak menemukan apa-apa di Gaza Utara. Padahal, pada awal perang, Tentara Israel sangat yakin kalau Hamas bersarang di utara.

Kenapa rumah sakit dan sekolah menjadi target militer? Adalah karena Israel tengah menjalankan taktik perang psikologis.

Omar Rahman, peneliti di Dewan Urusan Global Timur Tengah yang berbasis di Doha, menganalisis alasan sebenarnya Israel menargetkan rumah sakit berbeda-beda kategori (mulai dari rumah sakit anak hingga untuk Lansia) untuk mengabarkan, tidak ada tempan yang aman untuk berlindung bagi warga Palestina.

"Ini adalah bentuk perang psikologis," katanya.

“Serangan terhadap rumah sakit menunjukkan kepada masyarakat bahwa tidak ada tempat yang aman bagi [warga Palestina],” kata Rahman kepada Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa Israel bertindak dengan “impunitas total”.

Tahani Mustafa, analis senior Palestina di International Crisis Group, mengatakan tindakan yang membuat warga Palestina merasa tidak aman di setiap fasilitas di Jalur Gaza adalah untuk memadamkan segala bentuk perlawanan.

“Ini adalah bagian dari pola pelecehan yang sudah berlangsung lama terhadap staf dan layanan medis, di mana Israel menunjukkan kepada warga Palestina bahwa tidak ada seorang pun dan tidak ada ruang yang aman,” kata Mustafa kepada Al Jazeera.

“Ini adalah upaya sistematis untuk mengintimidasi penduduk lokal dan melemahkan keinginan mereka untuk melawan,” tambahnya.

Sepanjang perang, Israel telah menargetkan sejumlah ambulans dan fasilitas medis di Tepi Barat dan Gaza, mengklaim bahwa pejuang Palestina menggunakannya untuk bergerak dan berlindung, tanpa memberikan bukti atas klaim tersebut, kata analis tersebut.

Para korban tewas yang didominasi anak-anak dan perempuan pengungsi setelah Israel mengebom Sekolah al-Fakhoora yang dikelola lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza Utara, Sabtu, 16 November 2023.Al Jazee
Para korban tewas yang didominasi anak-anak dan perempuan pengungsi setelah Israel mengebom Sekolah al-Fakhoora yang dikelola lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza Utara, Sabtu, 16 November 2023.Al Jazee (Al Jazeera/AP Photo)

Lampu Hijau dari Amerika

"Israel juga menargetkan bangunan-bangunan sipil seperti rumah sakit karena mereka dapat lolos (dari hukuman) atas serangan tersebut," kata Trita Parsi, wakil presiden eksekutif di Quincy Institute for Responsible Statecraft yang berkantor pusat di Washington.

“Satu-satunya pengawasan dan batasan yang penting adalah yang datang dari Amerika Serikat,” kata Parsi kepada Al Jazeera.

“Perhitungan Israel adalah bahwa kemarahan internasional tidak menjadi masalah selama Amerika Serikat menolak membatasi tindakan Israel,” tambahnya.

Dengan tidak adanya tekanan dari AS, ditambah dengan pemerintahan “paling ekstremis” dan sayap kanan yang pernah dimiliki Israel, “Israel mengambil kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat mereka lakukan”, jelas Parsi.

Namun, seiring dengan berlanjutnya perang, AS mungkin terpaksa mendesak sekutu abadinya itu untuk mengurangi keganasan serangannya, seiring dengan menurunnya citra AS di seluruh dunia.

“Kedudukan dan kredibilitas AS di dunia anjlok akibat lampu hijau bagi tindakan Israel semacam ini,” kata Parsi.

“Mungkin saja hal ini tidak akan berlanjut lebih lama lagi, karena kerugian yang ditimbulkan oleh hal ini terhadap Amerika Serikat tidak dapat ditoleransi,” katanya.

(oln/Aljzr/*)

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan