Kamis, 28 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Mati-matian Bela Israel dan Ukraina, AS Pusing Rasakan Dampaknya: Kehabisan Mesiu dan Uang

AS dilaporkan kehabisan bubuk mesiu setelah mati-matian membela Israel dan Palestina.

Tayang:
Penulis: Febri Prasetyo
Editor: Bobby Wiratama
POOL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP
Presiden AS Joe Biden berpidato saat perayaan Hanukkah di Gedung Putih, Senin, (11/12/2023). AS dikabarkan kehabisan persediaan bubuk mesiu. 

TRIBUNNEWS.COM – Amerika Serikat (AS) dilaporkan kehabisan bubuk mesiu setelah mati-matian membela Israel dan Ukraina.

Salah satu perusahaan besar yang memproduksi senjata api di AS juga sudah memperingatkan akan menaikkan harga amunisi dan mesiu tahun depan.

Perusahaan itu menyalahkan “peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini" atas kenaikan itu.

Akan tetapi, perusahaan tersebut tidak merinci peristiwa apa saja yang mempengaruhi harga mesiu secara langsung.

Sementara itu, seorang pensiunan letnan kolonel di Angkatan Udara (AU) AS bernama Karen Kwiatkowski mengatakan kelangkaan mesiu di AS disebabkan oleh negaranya yang terus mendukung Ukraina dan Israel.

“Kapasitas produksi, yang difokuskan pada produksi bubuk mesiu untuk senjata api berukuran kecil, termasuk bubuk mesiu yang digunakan oleh warga sipil dan untuk keperluan berburu, kini diubah menjadi produksi mesiu untuk artileri,” kata Kwiatkowski dikutip dari Sputnik, (12/12/2023).

Baca juga: AS Pusing Kehabisan Uang untuk Bantu Ukraina, NATO Bersiap Dengar Kabar Buruk

Kwiatkowski yang juga pernah menjadi analis pada Kementerian Pertahanan AS menyebut sebagian besar mesiu yang diproduksi oleh negaranya telah diekspor ke luar negeri.

"Kesehatan dan Keselamatan Kerja (OHS) dan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) tampaknya menjadi alasan utama sebagian besar produksi mesiu dihentikan, atau dipindah ke luar negeri,” katanya.

Produsen mesiu lainnya, misalnya General Dynamics, disebut menjadi perusahaan yang paling untung karena kenaikan harga mesiu.

Mesiu menggunakan bahan yang sama dengan bahan untuk membuat pupuk sehingga kelangkaan bahan itu turut mengganggu persediaan pangan.

“Anehnya, tindakan pemerintah menciptakan dan mempromosikan perang itu jauh lebih merusak bagi lingkungan dan persediaan pangan,” ujarnya.

“Sembari memastikan peningkatan keuntungan demi industri pertahannya yang mendapat subsidi besar.

“Pemerintah AS hidup di dunia fantasi [di tempat adanya] pendanaan tak terbatas, dan pastinya menjual gagasan tentang Ukraina yang lebih baik pada tahun 2024 sesuai dengan kampanye pilpres Biden,” kata dia.

Baca juga: Update Perang Rusia-Ukraina Hari ke-656: Zelensky akan Bertemu Biden dan Tiba di Washington Hari Ini

Menurut dia, perusahaan manajemen aset di AS tidak "mengkhayal" seperti pemerintah AS.

“[Perusahaan] sadar akan batasan pendanaan dan mereka melacak produktivitas sebenarnya dan masa depan segalanya, dari senjata dan amunisi hingga pangan dan obat-obatan di level global," ucap Kwiatkowski.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved