Minggu, 31 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Presiden AS Joe Biden Ungkap Sering Berselisih Paham dengan PM Israel Benjamin Netanyahu

Presiden AS Joe Biden mengungkapkan bahwa dirinya sering berselisih paham dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Tayang:
AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Presiden AS Joe Biden (kiri) mendengarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat ia bergabung dalam pertemuan kabinet perang Israel di Tel Aviv pada 18 Oktober 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Palestina Hamas. Presiden AS Joe Biden mendarat di Tel Aviv pada 18 Oktober 2023 ketika kemarahan Timur Tengah berkobar setelah ratusan orang tewas ketika sebuah roket menghantam sebuah rumah sakit di Gaza yang dilanda perang, dan Israel dan Palestina dengan cepat saling menyalahkan. (Foto oleh Brendan SMIALOWSKI / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengungkapkan hubungannya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Biden mengungkapkan dirinya memiliki hubungan yang kompleks dengan Netanyahu selama bertahun-tahun hingga saat ini.

Bahkan, kata Biden, dirinya dan Netanyahu sering berselisih paham.

Dia mencatat dirinya pernah membuat tulisan di foto lama mereka menggunakan nama panggilan pemimpin Israel, Bibi.

"Aku menulis di atasnya, 'Bibi aku mencintaimu, tapi aku tidak setuju dengan apapun yang kamu katakan'," ucap Biden saat acara resepsi Gedung Putih untuk festival Hanukkah Yahudi, dikutip dari Reuters.

"Hal yang sama terjadi hari ini," lanjutnya.

Baca juga: Viral Video Tentara Israel Sengaja Lempar dan Banting Barang-barang Toko Suvenir di Gaza

Ia menambahkan Israel berada dalam "titik yang sulit" dan hal itu membuat banyaknya perbedaan pendapat antara dirinya dengan Netanyahu.

Dia tidak merinci perbedaan apa yang masih ada di antara kedua tokoh tersebut.

Meskipun dalam beberapa pekan terakhir perselisihan tersebut mencakup isu-isu terkait perang melawan Hamas dan perlakuan terhadap warga Palestina.

Terlepas dari perbedaan dengan kepimpinan Israel, lanjut Biden, komitmennya terhadap negara Yahudi tidak dapat tergoyahkan.

"Saudara-saudara, jika tidak ada Israel, tidak akan ada orang Yahudi di dunia yang aman," ungkap Biden.

Baca juga: Hamas Ancam PM Netanyahu: Ratusan Sandera Tak Akan Kembali Hidup-hidup Sebelum Israel Setop Agresi

Dia mengatakan bantuan kepada Israel akan terus berlanjut sampai Hamas disingkirkan, namun dia memperingatkan opini publik bisa berubah secara drastis demi keamanan Israel.

"Kita harus berhati-hati. Mereka harus berhati-hati."

"Opini publik seluruh dunia bisa berubah dalam semalam. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi," ucap Biden.

Biden mengatakan AS akan terus berupaya untuk membebaskan sandera yang masih ditahan di Gaza.

Selain itu, dirinya juga mempercepat bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina dan "menekankan kepada teman-teman Israel bahwa kita perlu melindungi kehidupan warga sipil".

Baca juga: Uni Eropa akan Usulkan Sanksi ke Pemukim Israel yang Lakukan Kekerasan di Tepi Barat

Netanyahu Dituduh Menghindar dari Pasukan AU

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataan di kota pesisir Israel Tel Aviv, pada 14 Juni 2014.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataan di kota pesisir Israel Tel Aviv, pada 14 Juni 2014. (JACK GUEZ / AFP)

Mantan Wakil Direktur Dewan Keamanan Nasional Israel, Eran Etzion, menuduh Benjamin Netanyahu menghindari pertemuan dengan pasukan angkatan udara.

Etzion mengatakan Netanyahu takut akan kritikan dari pasukan angkatan udara.

"Jadi, apa yang mereka lakukan? Evakuasi unit personelnya. Kunjungi hanggar kosong. Berpose dengan SUV dan kendaraan rahasia," ucap Etzion, dikutip dari Al Jazeera.

Baca juga: Houthi Yaman Ngaku Luncurkan Rudal ke Kapal Tanker Menuju Israel di Laut Merah

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan pasukan cadangan yang bertugas di Shaldag dan 669 unit diinstruksikan untuk mengosongkan lokasi yang diperkirakan akan dikunjungi Netanyahu pada hari Selasa, tanpa menyebutkan lokasinya secara spesifik.

Kelompok cadangan menuduh arahan tersebut dimaksudkan untuk membungkam kritik mereka terhadap perdana menteri, kata publikasi tersebut.

Sebuah surat publik yang ditulis oleh mantan anggota Unit 669 mengkritik keputusan Netanyahu untuk mengunjungi pasukan tersebut, dengan menyatakan hal itu akan "mengganggu fokus operasional".

"Akan lebih baik jika Perdana Menteri menahan diri dari kunjungan ini dan fokus pada penanganan krisis terbesar dalam sejarah negara ini, yang terjadi di bawah pengawasannya," tulis surat tersebut.

Serangan Udara Terus Terjadi di Rafah

Gambar yang diambil dari Rafah menunjukkan asap mengepul di atas Khan Yunis di Jalur Gaza selatan selama serangan Israel pada 11 Desember 2023, di tengah berlanjutnya pertempuran antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.
Gambar yang diambil dari Rafah menunjukkan asap mengepul di atas Khan Yunis di Jalur Gaza selatan selama serangan Israel pada 11 Desember 2023, di tengah berlanjutnya pertempuran antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas. (MAHMUD HAMS / AFP)

Baca juga: Diboikot karena Dukung Israel, Puma Putus Sponsor untuk Timnas Israel, tapi Bukan karena Genosida

Serangan udara kembali terjadi di Rafah, sebuah kota di Gaza yang berbatasan langsung dengan Mesir.

Padahal, Rafah merupakan kota di mana Israel meminta warga Palestina untuk pindah ke sana demi "keselamatan" mereka.

Rafah telah dibombardir secara besar-besaran dalam beberapa jam terakhir.

Sumber medis Palestina mengatakan sedikitnya 20 orang tewas, termasuk tujuh anak-anak dan sedikitnya lima wanita.

Tiga rumah hancur akibat serangan di utara kota. Warga dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved