DAAD: Selain Jurusan Teknik, Kota Kecil nan Indah di Jerman Diminati Pelajar
Mulai dari universitas berkualitas, hingga ke romansa kehidupan khas kota kecil. Jerman memikat pelajar Indonesia. Perbincangan DW…
Dr. Schnieders: Sebenarnya ada kota-kota tertentu di Jerman di mana ada populasi orang Indonesia yang tinggi. Biasanya ini adalah kota-kota yang relatif kecil tapi sangat indah. Terbanyak ada di Göttingen. Bahkan di sana ada yang namanya Kampung Melayu. Selain itu ada di Aachen…. Ya, itu, (kota itu) agak kecil, Jadi orang Indonesia suka.
Anda tidak dapat menggeneralisasi, tetapi banyak orang Indonesia pergi ke universitas yang lebih kecil, di perdesaan, lebih dekat dengan para profesor sehingga bisa bimbingan lebih baik jika Anda berada di universitas yang lebih kecil. Di kota yang lebih kecil, Anda tidak tersesat.
Bagaimana dengan negara Asia lainnya, apa punya minat yang sama?
Dr. Schnieders: Namun Indonesia masih memiliki semangat yang tinggi untuk belajar di Jerman. Di Malaysia ada antusiasme yang sama dengan Indonesia. Mereka memiliki banyak beasiswa dari pemerintah Malaysia. Jadi pemerintahnya merasa sangat penting untuk mengirim orang ke Jerman, terutama untuk teknik.
Dan di Singapura, situasinya sedikit berbeda. Tidak banyak orang Singapura yang kuliah di Jerman. Hanya ada beberapa, dan mereka sangat menghargai lulusan sarjana di NUS atau NTU.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Salah satu fokus Anda saat ini adalah ke Afrika, bagaimana dengan Asia ?
Dr. Schnieders: Afrika adalah topik penting saat ini, termasuk untuk Uni Eropa. Tapi itu tidak akan mengorbankan fokus kami untuk Asia. Terutama untuk Asia Tenggara dengan populasi mudanya yang inovatif dan haus akan pendidikan dan pembangunan. Jadi Afrika itu penting, tetapi Asia Tenggara akan semakin penting.
Apa rencana selanjutnya untuk Indonesia?
Dr. Schnieders: Kami ingin mempromosikan topik tentang pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, transisi energi, dan kesempatan yang sama untuk semua orang, serta mengadvokasi persamaan hak bagi perempuan.
Selain itu, kami ingin mendukung pemerintah Indonesia dalam hal mengembangkan pulau-pulau terluar Indonesia.
Menurut Anda apa tantangan terbesar dalam pendidikan tinggi Indonesia?
Dr. Schnieders: Pertama-tama ada banyak hal yang terjadi. Ini adalah universitas yang semakin profesional dan lebih internasional. Para siswa, banyak dari mereka berbicara bahasa Inggris dengan cukup baik. Tapi 15 tahun yang lalu, kondisinya berbeda.
Tentu saja reformasi besar seperti misalnya program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) mungkin perlu disesuaikan di beberapa titik dalam beberapa detail, tetapi gagasan umum untuk membuka universitas agar lebih dekat dengan tuntutan industri. Untuk memberikan kebebasan kepada siswa dan memilih arah belajar dan internasionalisasi.
Dan kemudian Anda memiliki beasiswa internasional ini, LPDP dan lainnya, dan itu tidak sebanding dengan 15 tahun yang lalu. Bagi saya, tentu saja, sebagai orang internasional dengan pandangan internasional, saya sangat menyambut baik pengembangan lebih banyak program pengajaran bahasa Inggris. Karena dengan begitu Anda dapat melakukan pertukaran, kemudian Anda dapat memiliki siswa internasional di kampus di Indonesia. Program untuk internasionalisasi tentu masuk akal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle64739218_403.jpg.jpg)