Bagaimana Bob Marley Menjadi Ikon Hak Asasi Manusia
Bob Marley ikut membesarkan aliran musik Reggae dengan kumpulan album yang melegenda dan lirik berisi cinta dan perdamaian. Kisahnya…
Lagi "Get Up Stand Up" diciptakan setelah Bob Marley berkunjung ke Haiti dan menyaksikan kemiskinan ekstrem di bawah kediktaturan François 'Papa Doc' Duvalier, yang berkuasa antara 1957 hingga 1986. Liriknya mengajak masyarakat memperjuangkan hak asasi sendiri.
Adapun "Exodus" menyuarakan luapan harapan bagi kaum rasta untuk kembali ke Afrika. Dalam lagu berjudul "Zimbabwe," Bob Marley mengajak warga Afrika membebaskan negeri dari kolonialisme Inggris.
Dia pernah menyanyikan lagu itu dalam konser menyambut kemerdekaan pertama tahun 1980 di Harare. Sejak itu, "Zimbabwe" menjadi lagu kebangsaan tidak resmi.
Salah satu lagunya yang acap disalahartikan adalah "No Women No Cry," karena sering dianggap untuk pria yang putus cinta.
Sebaliknya, Bob menulis lagu tersebut setelah mendengar seorang tetangga perempuannya menangis di halaman belakang rumahnya.
Lagu itu mengisahkan kehidupan di Jamaika yang marak kemiskinan dan ikatan keluarga yang kuat.
Warisan paling berkesan dari Bob Marley antara lain muncul dalam lagu "Redemption Song," yang mengandung kutipan nabi kaum rasta, Marcus Garvey, dalam sebuah pidato tahun 1937, "emansipasikan dirimu dari perbudakan mental, hanya diri kita yang bisa membebaskan pikiran kita sendiri."
rzn/as
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle68136195_403.jpg.jpg)