GIZ : Kerja Bersama untuk Hijaukan Indonesia
Menjadi lebih hijau ibarat lari maraton yang butuh usaha keras dan konsistensi. Perbincangan DW dengan organisasi Jerman GIZ menggarisbawahi…
"Tiga pilar besar tematik yang dilakukan yaitu transisi energi. Lainnya kami menyebutnya alam tangguh, yang pada dasarnya adalah perlindungan sumber daya alam. Dan kemudian kita memiliki satu aliran kerja yaitu infrastruktur hijau.”
Menjadi lebih hijau ibaratnya lari maraton
Untuk menjalankan program kerja prioritasnya dalam krisis iklim global, Hansen menyebut bahwa kesadaran orang Indonesia akan krisis iklim sudah cukup tinggi. Pemerintah menurutnya juga sudah cukup maju. Ini adalah sebuah langkah awal yang baik.
Meski demikian, proses transisi energi adalah sebuah perjalanan yang panjang. Hansen menyebut ini sebagai proses yang tak bisa terjadi dalam waktu singkat.
"Untuk mengubah pasokan energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat terjadi dalam semalam, jadi harus realistis. Ini proses transformasi besar-besaran yang besar dan itu hanya membutuhkan waktu," ujar Hansen.
"Tapi semua upaya yang dilakukan saat ini harus diapresiasi. Misalnya The Just Energy Transition Partnership (JETP), yang disepakati di Bali pada KTT G20. Dalam satu tahun Indonesia sudah menyampaikan dan menghasilkan kerangka kerja komprehensif. Saya pikir Indonesia telah melakukannya dengan sangat baik, mengingat ini bukan tugas yang mudah. Jadi kita tidak perlu pesimis tentang hal itu, tetapi lebih optimis bahwa kita bisa melakukannya bersama."
"Ini seperti maraton, kan? Bukan sesuatu yang dapat Anda lakukan dalam waktu satu tahun. Jadi yang paling penting adalah bahwa komitmen telah dibuat dan ditegaskan kembali di berbagai konferensi para pihak seperti baru-baru ini juga di Dubai itu."
Tantangan mengubah sikap dan gaya hidup
Apa saja tantangan yang dihadapi GIZ dalam bekerja di Indonesia?
"Saya pikir tantangannya adalah melawan tantangan global yaitu krisis iklim. Dan di sini saya pikir sangat penting bahwa kita semua perlu bersatu dan bekerja sama. Ini bukan hanya pekerjaan pemerintah. Ini juga sektor swasta, ini masyarakat sipil, Anda, saya, dan juga kami."
"Jadi pada akhirnya itu dimulai dengan Anda dan saya sebagai individu. Kita juga harus bersikap baik terhadap kenyataan bahwa kita harus mengubah sikap kita, hati mengubah hati dan cita orang-orang, bahwa kita mungkin juga perlu mengubah gaya hidup kita."
Ia mengungkap, perkara krisis iklim global ini sangatlah luas dan upaya penuntasannya harus melibatkan banyak orang. Mengutip Hansen, tantangan ini sangat luas dan besar sehingga tak mungkin dipikul hanya oleh satu pihak atau hanya oleh pemerintah.
Meski menyebut tak ada tantangan berarti yang dihadapi saat menjalankan berbagai programnya di Indonesia, Hansen menyebut sesekali ada tantangan yang muncul.
"Misalnya prosedur administrasi intensif. Tetapi itu adalah hal biasa. Saya pikir ini bukan masalah besar sejauh ini," ucapnya.
Bagaimana dengan proses pemilihan umum pemilihan presiden dan wakil presiden yang terjadi di tahun ini, akankah GIZ melihat adanya perubahan berarti dalam implementasi program-program mereka selanjutnya?
Menjawab hal ini Hansen optimis bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Pemerintah Indonesia sangat berkomitmen. Dan saat ini ada pemilihan presiden yang sedang berlangsung, tetapi saya tidak melihat akan ada perubahan signifikan pada tujuan pembangunan secara keseluruhan. Artinya, ini adalah sesuatu yang kemungkinan besar akan terus berlanjut," ucap dia.
"Jadi saya sangat optimis bahwa segala sesuatunya sedang dan akan terus berlanjut, terlepas dari siapa yang akan menjadi presiden." (ae)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle68327856_403.jpg.jpg)