Selasa, 7 April 2026
Deutsche Welle

Gerakan Sunflower Taiwan Beri Ruang Anak Muda untuk Bicara

Gerakan Sunflower sempat menggemparkan Taiwan satu dekade silam, setelah Taipei mencoba memaksa kesepakatan yang tak jelas dengan…

Deutsche Welle
Gerakan Sunflower Taiwan Beri Ruang Anak Muda untuk Bicara 

Gerakan Sunflower Taiwan, atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Gerakan Bunga Matahari, merupakan sebuah gerakan yang dinamai setelah seorang penjual memberikan bunga kepada para demonstran, dalam aksi protes yang pecah pada Maret 2014 silam. Saat itu, puluhan mahasiswa menyerbu parlemen dan mendudukinya selama tiga setengah minggu.

Pemerintah sebelumnya telah membuat marah penduduk Taiwan lantaran meloloskan pakta perdagangan lintas selat dengan Beijing tanpa peninjauan klausul demi klausul. Pengunjuk rasa berpendapat kesepakatan itu dapat merugikan ekonomi Taiwan dan memberikan pengaruh lebih besar kepada Cina, yang memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Ratusan orang akhirnya turun ke jalanan di Taipei untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap para mahasiswa. Bunga Matahari menjadi sebuah simbol harapan. Menghadapi penolakan tersebut, pemerintah kemudian menghentikan kesepakatan perdagangan yang kontroversial itu.

Masa sekarang, Generasi Milenium dan Z Taiwan masih merasakan dampak dari pembangkangan massal yang memicu gelombang aktivisme anak muda dan mendorong negara pulau itu menjauh dari Beijing.

Kaum muda berjuang untuk bersuara dalam politik

Li Fei-fan, salah satu pemimpin mahasiswa yang berhasil menerobos masuk ke parlemen tahun 2014 silam, percaya bahwa gerakan ini merupakan momen penting bagi masyarakat sipil Taiwan, yang memungkinkan mereka untuk menyadari kekuatan mereka dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah.

"Saya pikir pada awalnya hubungan Taiwan dengan Cina biasanya diputuskan oleh sekelompok kecil elit politik," kata Li Fei-fan kepada DW.

Aksi protes tahun 2014 menunjukkan bahwa anak muda Taiwan ingin memiliki suara dalam isu lintas selat, ujarnya.

Banyak anggota generasi muda yang khawatir dengan mengikisnya demokrasi Taiwan di bawah partai petahana Kuomintang (KMT), yang dianggap mendukung pemulihan hubungan dengan Cina.

Di saat yang sama, anak muda dikritik oleh generasi yang lebih tua karena dianggap lemah dan apatis terhadap politik.

Milenium melirik Gen Z saat kesepakatan muncul kembali

Dua tahun setelah gerakan mahasiswa tersebut, Partai Progresif Demokrat (DPP) menggulingkan KMT, dan masih berkuasa hingga hari ini. Namun, margin kemenangannya atas KMT menyempit secara signifikan pada pemilu yang diadakan Januari 2024 lalu.

Pada kenyataannya, DPP hanya berhasil meraup sekitar 40% suara, yang mengindikasikan bahwa kebanyakan pemilih Taiwan sekarang mendukung partai oposisi yang memiliki hubungan dekat dengan Beijing.

Salah satunya adalah Partai Rakyat Taiwan (TPP), yang mendapat dukungan kuat dari Gen Z, yang juga dikenal di Taiwan sebagai "Generasi Pasca Bunga Matahari."

Brian Hioe, salah satu peserta gerakan Sunflower dan pendiri Majalah New Bloom, mengatakan kepada DW bahwa ada "banyak perhatian dari generasi milenium yang ditujukan kepada Gen Z.

"Pertanyaannya adalah: Apakah Gen Z akan terlibat secara politik?" katanya.

Selama kampanye pemilu baru-baru ini, dilaporkan bahwa pemimpin TPP Ko Wen-je melontarkan gagasan untuk mengembalikan perjanjian perdagangan dengan Beijing di dalam lingkaran partai.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved