Iran Vs Amerika Memanas
Iran Pasang Syarat! Hormuz Dibuka jika Ganti Rugi Perang Dibayar
Iran tak akan buka Hormuz tanpa kompensasi perang. Ancaman meluas ke Laut Merah, jalur energi global terancam, risiko krisis ekonomi dunia kian nyata.
Ringkasan Berita:
- Iran hanya akan membuka Selat Hormuz jika ada ganti rugi perang, termasuk skema biaya transit kapal untuk pemulihan ekonomi dan infrastruktur.
- Kebijakan ini jadi alat tekanan Iran, menolak buka jalur tanpa imbalan serta menuntut penghentian konflik dan jaminan keamanan kawasan.
- Selain Hormuz, Iran juga ancam Selat Bab al-Mandab jika serangan meningkat, berpotensi ganggu jalur energi global dan picu krisis lebih luas.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz hanya akan dilakukan jika kompensasi atas kerusakan perang dibayarkan.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh pejabat Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai.
Dalam pernyataan resminya, pejabat Iran menegaskan bahwa akses penuh Selat Hormuz tidak akan diberikan tanpa adanya jaminan kompensasi mencakup penggunaan sebagian pendapatan dari biaya transit kapal untuk menutup kerugian akibat perang.
Dengan kata lain, setiap kapal yang melintas nantinya akan berkontribusi secara finansial dalam pemulihan infrastruktur dan ekonomi Iran yang terdampak konflik.
Langkah ini juga diiringi dengan usulan pembentukan sistem hukum baru dalam pengelolaan Selat Hormuz, yang memungkinkan Iran mengatur aliran kapal sekaligus menarik biaya sebagai bentuk “kompensasi tidak langsung”.
Kebijakan tersebut mencerminkan perubahan pendekatan Teheran, dari sekadar respons militer menjadi strategi tekanan ekonomi terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas perang.
“Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali apabila sebagian dari pendapatan transit digunakan untuk mengganti semua kerusakan yang disebabkan oleh perang,” ujar Tabatabai dikutip dari Daily Sabah.
Adapun penolakan Iran untuk membuka selat tanpa kompensasi didasari oleh besarnya kerugian yang dialami selama konflik berlangsung.
Serangan militer yang terjadi sejak akhir Februari menyebabkan kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta gangguan besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Dalam pandangan Teheran, pembukaan jalur strategis tanpa imbalan dinilai akan merugikan posisi tawar mereka dalam negosiasi internasional.
Selain faktor ekonomi, kebijakan ini juga mencerminkan sikap politik Iran yang menolak tunduk pada tekanan eksternal.
Teheran menilai bahwa pembukaan Selat Hormuz harus menjadi bagian dari kesepakatan yang lebih luas, termasuk penghentian konflik secara permanen dan jaminan keamanan di kawasan.
Ancaman Iran juga Mengarah ke Laut Merah
Selain ancaman di Selat Hormuz, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan.
Dalam pernyataan terbaru, Teheran juga mengisyaratkan potensi ancaman terhadap jalur pelayaran strategis lain di kawasan, termasuk wilayah Laut Merah.
Baca juga: Imbas Ultimatum Trump ke Iran, Jembatan Utama Penghubung Arab Saudi-Bahrain Ditutup Lebih Awal
Peringatan tersebut disampaikan oleh Ali Akbar Velayati, penasihat kebijakan luar negeri yang memiliki pengaruh besar dalam lingkar kekuasaan Iran.