Tantangan Stabilkan Pasokan Beras di Tengah Perubahan Iklim
Di tengah perubahan iklim, kering dan banjir seolah bergantian mengancam tanaman padi dan pasokan beras. Riset varietas unggul memang…
Untuk itu, peneliti saat ini lebih berfokus untuk menciptakan varietas padi yang tahan dengan kondisi atau lahan ekstrem agar bisa tumbuh di lahan marjinal. Di tahun 2014, Suprayogi menciptakan varietas padi yang tahan air asin (kadar garam tinggi) sehingga bisa ditanam di kawasan pesisir pantai.
"Mau tidak mau, akhirnya harus menggunakan lahan-lahan yang dalam tanda kutip tidak optimal lagi, atau lahan marjinal. Karena lahan-lahan yang subur sudah dikonversi, maka mau tidak mau sekarang lahan yang tidak subur pun harus digunakan untuk produksi pangan. Lahan kering yang tadinya tidak dilirik, kemudian termasuk juga lahan di pantai, yang sering terpengaruh oleh intrusi air laut asin,"
Konsumen tetap pengaruhi jenis padi yang ditanam
Jika sampai saat ini sudah banyak varietas padi unggul, bagaimana dengan penerimaan petani?
Ramadhan Adhi, penyuluh petani di Kediri, Jawa Timur menyebut, sebenarnya saat ini petani sudah jauh lebih terbuka untuk mencoba menanam varietas baru. Hanya saja, orientasi dan prioritas petani lebih mengarah ke produktivitas dan meningkatkan penghasilan.
"Kembali lagi ke produktivitasnya, lalu kualitas berasnya seperti apa. Karena ini memengaruhi penjualan. Misalnya, dia tanam varietas baru, dan ternyata konsumennya bilang berasnya tidak enak, nasinya tidak enak, tidak pulen. Ya sudah, drop pasti harganya."
"Mereka mencoba satu kali panen, dua kali panen, ketika tidak bagus mereka balik lagi ke yang lama. Pasti pilih yang biasa mereka tanam yang berasnya enak, dan tengkulaknya beli juga mahal," ucap dia kepada DW Indonesia. (ae)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle67013507_403.jpg.jpg)