Tantangan Stabilkan Pasokan Beras di Tengah Perubahan Iklim
Di tengah perubahan iklim, kering dan banjir seolah bergantian mengancam tanaman padi dan pasokan beras. Riset varietas unggul memang…
Untuk itu, dia mengungkapkan, sebagai ekses dari kemarau panjang,produksinya beras dalam negeri masih tidak tinggi sekali. Saat ini, kata dia, Indonesia masih pada tahap menormalisasi produksi beras.
Penelitian jalan terus, tapi cuaca kian ekstrem
Untuk menghadapi fenomena lingkungan dan cuaca ekstrem, Indonesia sebenarnya sudah memiliki berbagai varietas padi baru.
"Peneliti padi itu banyak sekali ya di Indonesia dan sebenarnya sudah banyak juga varietas yang dihasilkan.
Tentu saja orientasinya adalah untuk membantu pemerintah mencukupi kebutuhan pangannya, khususnya padi," menurut Suprayogi.
"Tapi tentu saya sampaikan bahwa sebetapapun varietas sudah diciptakan, kalau dihadapkan kepada iklim yang ekstrem, kemarau yang sangat panjang seperti ini tentu saja, belum bisa mengatasi semuanya."
Dia mencontohkan, untuk varietas padi yang diklaim tahan kering, biasanya tahan kering sampai 3 hingga 3,5 bulan. Jika kemarau lebih panjang dari itu, padi juga tetap butuh suplai air yang mencukupi dan tak akan bertahan tanpa air.
Mengutip laman Kementerian Pertanian, varietas unggul baru yang disebut toleran akan kekeringan dan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Beberapa varietas padi unggul adalah Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, Inpari 41 Tadah Hujan Agritan, Inpari 46 GSR Tadah Hujan dan Cisaat.
Untuk varietas Gogo, ada 8 rekomendasi varietas yang cukup berkembang di masyarakat. Pada lahan gogo, varietas yang digunakan harus wajib tahan penyakit Blas. Selain itu lahan gogo banyak mengandung Al dan kadar Fe jadi juga harus toleran terhadap ancaman keracunan Al.
Sementara varietas padi irigasi yang toleran kekeringan terdiri dari 6 varietas yaitu Inpari 13, Inpari 19, Cakrabuana Agritan, Padjadjaran Agritan (genjah), Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR.
Konversi lahan semakin masif
Sampai saat ini, berbagai varietas padi sudah banyak diciptakan. Namun apa yang membuat ketahanan dan ketersediaan pangan masih belum terlaksana?
"Padi untuk tahan kering sudah ada. Tapi faktornya kan bukan hanya varietas saja, ada varietasnya kalau tidak ada lahannya bagaimana?" kata Suprayogi.
"Varietas baru tetap dibutuhkan. Kita menyadari bahwa konversi lahan itu semakin masif dari tahun ke tahun. Dan untuk menanam padi itu yang dipakai itu mesti lahan subur tapi lahan makin sempit."
Ia menilai hal ini lebih berbahaya dibandingkan perubahan iklim. Pasalnya, iklim bisa memprediksi, meski tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Sementara konversi lahan yang sebenarnya bisa dikendalikan lewat undang-undang agraria, ternyata tak bisa dikendalikan.
"Luasannya (konversi) setiap tahun itu besar sekali. Kalau satu hektare itu padi misalnya dibuat rata-rata hanya menghasilkan 6 ton saja, penyusutan lahan dalam satu tahun Indonesia itu sampai sekitar 50 ribu hektare. Berapa ton produksi yang hilang karena itu? Lalu ditambah dengan musim dan sebagainya. Dan ini terjadi di daerah-daerah lumbung pangan."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle67013507_403.jpg.jpg)