Konflik Palestina Vs Israel
Tak Hanya Dilanda Perang, Warga Gaza Juga Menderita karena Cuaca Panas, Sampah Menumpuk dan Serangga
Derita warga Gaza di tengah perang, cuaca panas, sampah menumpuk hingga wabah serangga.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Pada bulan Januari lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan adanya lonjakan penyakit menular seperti hepatitis A, yang disebabkan oleh kondisi tidak sehat di kamp-kamp pengungsian.
“Sampah terus menumpuk dan air mengalir sangat langka di Gaza," kata UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, dalam sebuah postingan di X minggu lalu.
“Saat cuaca semakin panas, risiko penyebaran penyakit meningkat.”
Rafah menampung sekitar 1,5 juta pengungsi, menurut PBB.
Jumlah itu merupakan lebih dari separuh penduduk Jalur Gaza yang dikepung dan dibombardir oleh Israel selama hampir tujuh bulan.

Di jalan-jalan, sampah menumpuk karena kontainer sampah berukuran besar sudah penuh.
Layanan dasar seperti pengangkutan sampah tidak berfungsi sejak lama akibat perang kali ini.
Tentara Israel tanpa henti menggempur wilayah kecil Palestina sebagai respons terhadap serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tanggal 7 Oktober, yang mengakibatkan kematian 1.170 orang, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel.
Serangan Israel kemudian menewaskan sedikitnya 34.488 orang di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas.
Perang ini juga telah menghancurkan kendaraan pengumpulan sampah, fasilitas dan pusat pengolahan limbah medis, menurut sebuah laporan PBB mengatakan akhir bulan lalu.
Baca juga: Puluhan Profesor Jurnalisme Desak NYT untuk Revisi Laporan Kekerasan Seksual Hamas 7 Oktober
“Kami hidup di neraka,” kata Hanane Sabre, seorang pengungsi Palestina berusia 41 tahun yang anak-anaknya tidak dapat lagi tahan dengan tenda yang panas.
“Saya kelelahan karena panas, ditambah nyamuk dan lalat di mana-mana yang mengganggu kami siang dan malam,” katanya.
Tugas sehari-hari seperti memasak dan mencuci, atau menyiapkan adonan roti dilakukan di dalam tenda dalam cuaca panas yang menyengat, kata Mervat Alian, seorang perempuan pengungsi dari Kota Gaza.
“Seolah-olah kita hidup di dalam kuburan, kehidupan sudah tidak ada lagi," tambahnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.