Minggu, 3 Mei 2026

Bagaimana China membantu Iran mengatasi sanksi minyak AS

Industri minyak Iran adalah sumber perekonomiannya. Meskipun ada sanksi, ekspor minyak negara tersebut mencapai level tertinggi dalam…

Tayang:
BBC Indonesia
Bagaimana China membantu Iran mengatasi sanksi minyak AS 

"Elemen kunci dari sistem perdagangan ini adalah, “teko” China [kilang independen kecil], kapal tanker “armada gelap”, dan bank-bank regional China dengan keterbukaan internasional yang terbatas," kata Asisten Direktur untuk Statecraft Ekonomi di Dewan Atlantik, Maia Nikoladze, kepada BBC.

"Teko" tempat minyak Iran disuling berupa kilang-kilang kecil semi-independen yang menjadi alternatif bagi perusahaan besar milik negara.

"[Teko] itu adalah istilah industri," Falakshahi menjelaskan, "karena kilang wujud awalnya terlihat seperti teko, dengan fasilitas yang sangat mendasar, sebagian besar terletak di wilayah Shandong, tenggara Beijing."

Kilang-kilang kecil ini memberikan risiko lebih kecil bagi China jika dibandingkan dengan perusahaan milik negara yang beroperasi secara internasional dan membutuhkan akses ke sistem keuangan AS.

"Penyuling swasta kecil tidak beroperasi di luar negeri, tidak berdagang dalam dolar, tidak perlu mengakses pendanaan asing," kata Falakshahi kepada BBC Persia.

Pengiriman lewat 'armada gelap'

Kapal pengangkut minyak dapat dilacak keberadaannya di lautan seluruh dunia melalui perangkat lunak yang memantau lokasi, kecepatan, dan jalur mereka.

Untuk menghindari sistem pelacakan, Iran dan China menggunakan "jaringan kapal tanker dengan struktur kepemilikan yang tidak jelas, yang tidak melaporkan lokasi yang akurat," kata Nikoladze.

"Mereka dapat sepenuhnya melewati kapal Barat, layanan pengiriman, dan layanan perantara. Dan dengan begitu, mereka tidak harus mematuhi peraturan Barat, termasuk sanksi," tambahnya.

Kapal "armada gelap" yang membawa minyak ini biasanya menonaktifkan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) – sebuah sistem transponder maritim – untuk menghindari deteksi, atau menipu dengan berpura-pura berada di satu lokasi ketika mereka sebenarnya berada di lokasi lain.

Armada ini diyakini terlibat dalam transfer kapal-ke-kapal dengan penerima China di perairan internasional, di luar zona transfer resmi.

Kadang-kadang, transfer ini dilakukan dalam kondisi cuaca buruk untuk menyembunyikan kegiatan mereka, sehingga menyulitkan untuk menentukan minyak berasal dari negara mana.

Falakshahi dari Kpler menduga transfer ini biasanya terjadi di perairan Asia Tenggara.

"Ada zona, timur Singapura dan Malaysia, yang secara historis selalu menjadi lokasi di mana Anda memiliki banyak kapal tanker yang mengalir ke sana dan mentransfer kargo satu sama lain."

Selanjutnya, adalah fase "rebranding".

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved