Kisah perempuan yang jadi pendaki tercepat mencapai puncak Gunung Everest
Seorang ibu tunggal asal Nepal, Phunjo Jhangmu Lama, baru-baru ini mendaki Everest, salah satu puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya,…
Percobaan pertama Lama mendaki Gunung Everest pada 2015 terpaksa dihentikan karena gempa besar mengguncang Nepal, menewaskan 9.000 orang termasuk 22 pendaki.
"Saya ada di base camp ketika gempa terjadi," ujarnya.
Pada 2016, dia mendaki Denali, puncak tertinggi di Alaska, dan Cho Oyu di Nepal.
Cho Oyu adalah adalah puncak keenam tertinggi di dunia. Gunung itu terletak sekitar 30 km di barat Everest.
Pada akhirnya, dia berhasil mendaki Everest pada 2018.
"Pemandu saya dari Australia. Selama mengalami aklimatisasi, saya bilang padanya bahwa saya mau langsung mendaki ke Everest dari Camp 2 [di ketinggian 6.400 meter]. Target saya adalah 22 jam, tapi pemandu saya mengalami kecelakaan."
Proses penyelamatan memakan banyak waktu pendakian, sehingga Lama memerlukan waktu 39 jam enam menit untuk mencapai puncak.
Kendati tak sesuai target, pencapaian itu memecahkan rekor tercepat pendakian Everest oleh seorang perempuan.
Tapi pada 2021, pendaki dari Hong Kong, Tsang Yin Hung, memecahkan rekor ini dengan mendaki Everest selama 25 jam 50 menit.
Didorong oleh teman dan koleganya, Lama memutuskan untuk mengeklaim kembali rekor tersebut dan meminta bantuan Tendi Sherpa, seorang pendaki dan pemandu berpengalaman yang telah mendaki Everest sebanyak 17 kali.
"Dia mencari tim yang kuat," ujar Sherpa.
"Kami memberinya pelatihan terbaik, oksigen, tenda, sepatu boot untuknya..."
Dalam pendakiannya, Lama ditemani oleh dua pemandu, yang masing-masing telah mencapai puncak Everest sebanyak 21 kali dan enam kali.
Rekor baru
Setelah dua pekan proses aklimatisasi dan pelatihan di base camp, Lama akhirnya mulai mendaki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bbc-indonesiab4914a40-2122-11ef-8537-a190f3d775be.jpg.jpg)