Mengapa orang Barat masih percaya angka 13 membawa sial?
Angka 13 kerap dikaitkan dengan kesialan, sampai-sampai banyak gedung tidak melewatkan lantai 13. Namun keterkaitan angka 13 dengan…
“Pemikiran mengenai mitologi Nordik sebagai semacam batu ujian bagi kebudayaan sebenarnya cukup baru.”
“Ini bermula dari ketertarikan yang muncul di Inggris pada abad ke-19 saat menemukan warisan Jermanik, dan para ahli di Inggris menerjemahkan mitos-mitos Nordik untuk pertama kalinya.”
"Dan sekarang, tentu saja, sejak film-film Marvel dirilis, Loki adalah seorang pahlawan. Jadi, Anda mendapatkan alasan untuk fokus pada sosok tertentu dan Anda mendapatkan transferensi semacam ini."
Hari-hari sial
Gagasan tentang hari-hari sial memang sudah ada sejak lama.
Pada era Romawi, ada Ides of March untuk menandai tanggal 15 Maret yang dikaitkan dengan kesialan.
Anggapan itu muncul setelah Julius Caesar dibunuh pada hari itu, lalu dipopulerkan oleh tragedi-tragedi Shakespeare yang menceritakan kisahnya.
“Kita menyukai takhayul. Kita senang bisa mengatakan, ‘oh, itu tradisi’ di dunia yang serba mekanis dan sangat tidak menentu ini,” kata Wood.
"Tampaknya tidak masuk akal, tetapi bisa mengaitkan sesuatu dengan kekuatan luar, bukan yang jahat, namun pasti terjadi, membuat kita merasa lebih nyaman."
Seorang agen properti dari Propertymark, Katie Griffin, mengatakan bahwa menghindari angka 13 adalah sesuatu yang masih dianggap penting dalam pembangunan rumah.
“Bukan berarti ini akan mengurangi nilai [sebuah rumah], tetapi kadang untuk mencegahnya, pengembang akan menghilangkan angka 13. Di masa lalu, Anda akan menggunakan nomor 11, 12, 14,” kata Griffin.
“Saya belum pernah menghadapi orang-orang yang mengatakan, ‘Saya percaya takhayul dan saya tidak mau rumah nomor 13’, tetapi mereka biasanya mengatakan, ‘Saya tidak ingin berada di dekat halaman gereja atau kuburan’”.
"Jadi sekilas, hal-hal seperti ini ternyata masih ada. Itu tergantung apakah Anda orang yang sensitif atau tidak, tapi Anda bisa membaliknya dengan menawarkan harga yang lebih murah apabila membeli rumah nomor 13."
Sebuah survei singkat terhadap penumpang di dekat gedung itu tampaknya menunjukkan bahwa sebagian besar orang meremehkan takhayul.
Odessa Barthorpe, dari Cardiff, percaya bahwa takhayul adalah hasil dari budaya atau pola asuh, namun ia secara pribadi akan dengan senang hati tinggal di lantai 13.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bbc-indonesia550ae000-2d7e-11ef-a044-9d4367d5b599.jpg.jpg)