Senin, 11 Mei 2026

Cerita remaja India yang selamat dari ameba pemakan otak manusia

Remaja 14 tahun bernama Afnan Jasim merupakan orang kesembilan di dunia yang selamat dari penyakit langka ameba pemakan otak manusia.

Tayang:
BBC Indonesia
Cerita remaja India yang selamat dari ameba pemakan otak manusia 

Di kolam renang sekalipun, masyarakat disarankan untuk menjaga mulut tetap berada di atas permukaan air.

“Klorinasi sumber air sangat penting,” tambah dokter Rauf.

Sebuah makalah penelitian yang diterbitkan di Negara Bagian Karnataka, India, juga melaporkan kasus-kasus bayi di India dan Nigeria yang terjangkit ameba berbahaya dari air mandi.

Sejak 1965, sekitar 400 kasus PAM telah dilaporkan di seluruh dunia, sementara di India sejauh ini hanya terdapat kurang dari 30 kasus.

“Kerala melaporkan kasus PAM pada 2018 dan 2020. Tahun ini telah tercatat sekitar lima kasus sejauh ini,” kata dokter tersebut.

Afnan mulai mengalami gejala tersebut lima hari setelah dia berenang di kolam renang setempat di Distrik Kozhikode. Dia mengalami kejang dan mulai mengeluh sakit kepala parah.

Orang tuanya membawanya ke dokter, namun Afnan tidak kunjung membaik.

Tapi ayah Afnan, MK Siddiqui, 46, terpikir untuk menghubungkan gejala-gejala yang dialami putranya dengan sesuatu yang dia baca di media sosial.

Siddiqui, yang merupakan seorang peternak sapi perah, mengatakan dia membaca tentang dampak virus Nipah di media sosial ketika dia menemukan informasi tentang ameba pemakan otak yang mematikan.

"Saya membaca sesuatu tentang kejang yang disebabkan oleh infeksi. Setelah Afnan mengalami kejang, saya segera membawanya ke rumah sakit setempat," kata Siddiqui.

Ketika kejang Afnan tidak kunjung berhenti, Afnan dibawa ke rumah sakit lain. Namun rumah sakit tersebut tidak memiliki dokter spesialis saraf.

Afnan kemudian dibawa ke Baby Memorial Hospital di Kozhikode. Di sana, Afnan ditangani dokter Rauf, seorang dokter anak.

Dr Rauf memuji Siddiqui yang memberi tahu dokter tentang fakta bahwa Afnan berenang di kolam renang dan gejala-gejala yang dialami remaja itu.

Rangkaian fakta itu membantu dokter mendiagnosis penyakit tersebut tepat pada waktunya.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved