Jumat, 8 Mei 2026
Deutsche Welle

Dari Gaza ke Ukraina: Bagaimana Qatar Jadi Juru Damai Dunia?

Bahkan di tengah perundingan gencatan senjata di Gaza, Qatar memediasi konflik di belahan dunia lain. Apa yang membuat negara Teluk…

Tayang:
Deutsche Welle
Dari Gaza ke Ukraina: Bagaimana Qatar Jadi Juru Damai Dunia? 

Qatar juga menjaga hubungan yang lebih baik, termasuk hubungan ekonomi, dengan Iran daripada negara-negara tetangganya, yang banyak di antaranya menganggap Iran sebagai musuh.

Qatar juga menyewakan Pangkalan Udara al-Udeid untuk militer AS sejak tahun 2001. Al-Udeid saat ini adalah pangkalan AS terbesar di Timur Tengah, dengan sekitar 10.000 tentara. "Qatar jelas diuntungkan dari hal ini karena pemerintah di Barat dan Timur, sampai batas tertentu, menganggap mereka sebagai mitra yang sangat berguna," kata Cinzia Bianco, pakar negara-negara Teluk di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri.

Pada tahun 2022, Presiden AS Joe Biden menyebut Qatar sebagai "sekutu utama non-NATO" sebagian karena peran Doha dalam merundingkan penarikan pasukan dari Afghanistan.

Analis mengatakan bahwa meskipun bekerja sama erat dengan Amerika, Qatar juga bersikap lebih pragmatis terhadap organisasi-organisasi Islam, melihatnya sebagai bagian dari gerakan politik populer yang tidak dapat dihapus atau dihindari.

Dikabarkan, petinggi Taliban mengaku mereka merasa lebih nyaman di Qatar karena sikap pemerintah yang memahami posisi semua pihak.

Netralitas sebagai prioritas

Menurut Bianco, negosiator Qatar tidak selalu memiliki keterampilan khusus. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka lebih cakap daripada diplomat yang bekerja untuk pemerintah lain, termasuk di Eropa," kata dia.

"Jadi, menurut saya, kemahiran mediasi Qatar didapat dari sikap untuk berusaha senetral mungkin. Bagi mereka, memainkan peran mediator sangatlah penting, dan itu berarti mereka menempatkannya di atas hal lain, termasuk politik internal dan regional."

Hal itu juga terkait dengan kekayaan Qatar, imbuh Bianco. Sumber daya mereka memungkinkan Doha untuk menampung pelarian dan menangani beberapa krisis sekaligus.

Faktor lain mungkin juga berkaitan dengan rantai komando yang lebih pendek. "Kemampuan Kementerian Luar Negeri untuk mengambil keputusan tanpa dipertanyakan atau diteliti oleh publik berarti bahwa mereka dapat bertindak tegas," ujar Sultan Barakat, profesor kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa di Qatar.

Titian yang berbahaya

Namun, menjadi "negosiator andalan dunia" juga bisa merugikan. Negosiasi Hamas-Israel yang melibatkan Qatar merupakan salah satu perundingan "dengan taruhan paling tinggi" yang pernah dilakukan Doha, menurut para pengamat.

Politisi Israel menuduh Qatar sebagai "serigala berbulu domba" yang mendanai terorisme. Politisi Amerika menyerukan "evaluasi ulang" hubungan dengan Qatar, jika Qatar tidak memberikan tekanan lebih besar pada Hamas. Pada bulan April, AS mengajukan RUU yang dapat membatalkan status Qatar sebagai sekutu utama non-NATO.

Qatar menolak semua tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kendali atas Hamas.

"Ketika Anda berinteraksi dengan milisi bersenjata non-negara yang melakukan hal-hal buruk, Anda jelas berisiko dituding memvalidasi kelompok-kelompok ini dan telah memberi mereka lebih banyak legitimasi atau akses ke sumber daya," jelas Bianco.

Dua mengatakan argumen Qatar adalah "ya, kami memiliki hubungan ini, tetapi kami menggunakannya untuk kebaikan."

Betapa pun cacat, para analis berpendapat bahwa dunia masih membutuhkan Qatar dalam perannya saat ini.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved