Jumat, 24 April 2026
Deutsche Welle

Geliat Populis Kanan Rugikan Iklim Bisnis di Jerman Timur?

Partai populis kanan Jerman AfD diprediksi menang besar dalam pemilu di negara bagian Sachsen. Namun kemenangan kaum anti-migran itu…

Deutsche Welle
Geliat Populis Kanan Rugikan Iklim Bisnis di Jerman Timur? 

Dresden sejatinya dikenal lewat sejarahnya yang kaya, istana barok yang menjulang tinggi, pemandangan alam yang spektakuler dan koleksi seni yang unik.

Namun, ada hal lain yang mengintai di sekitar ibu kota negara bagian Sachsen itu dan membuat gentar para investor.

Pada tanggal 1 September nanti, Sachsen akan menyelenggarakan pemilihan umum legislatif.

Tiga minggu kemudian, Brandenburg di bekas Jerman Timur akan melangsungkan pemilu serupa.

Dengan derasnya arus investasi sejak beberapa tahun terakhir, para pelaku bisnis menahan napas menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi.

Masalah yang paling besar adalah munculnya partai-partai sayap kanan, terutama Alternatif untuk Jerman, AfD.

Dalam pemilihan Parlemen Eropa pada bulan Juni, AfD berada di urutan kedua di Jerman, mengungguli ketiga partai koalisi yang saat ini berkuasa.

AfD sejak awal menggelorakan narasi anti-imigran dan penolakan terhadap supremasi Uni Eropa.

Poster-poster kampanye mereka menjanjikan, antara lain, makan siang sekolah gratis dan biaya perawatan medis yang lebih rendah.

Mengenai imigran di Jerman, AfD berulangkali merapal mantra "deportasi, deportasi, deportasi," tanpa merinci siapa yang dimaksud.

Beberapa jajak pendapat menunjukkan betapa AfD memiliki dukungan elektoral sebesar 30 persen di Jerman.

Ketakutan di Dresden

Berbeda dengan animo publik yang mulai menerima prospek berkuasanya kaum populis kanan, pengusaha atau serikat buruh memiliki pandangan lain.

"Kami memiliki masalah yang terus berkembang dengan ekstremisme sayap kanan," kata Markus Schlimbach, kepala Konfederasi Serikat Pekerja Jerman, DGB, di Sachsen. DGB mewakili sekitar 250.000 orang, atau sekitar 16 persen dari tenaga kerja negara bagian tersebut.

"Penolakan terhadap segala sesuatu yang asing merupakan masalah yang telah berkembang di Sachsen dalam beberapa tahun terakhir," katanya kepada DW, sambil menunjukkan ironi betapa Sachsen sendiri sangat bergantung pada penjualan produknya secara global.

Schlimbach berasal dari Sachsen dan telah giat sebagai anggota serikat pekerja sejak tahun 1991. Pada 2017, dia dipercaya mengepalai salah satu perhimpunan buruh terbesar di Jerman tersebut.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved