Jerman: Friedrich Merz Siap Hadapi Tantangan Kebijakan Luar Negeri
Pemerintah baru Jerman yang segera terbentuk punya ruang gerak finansial berkat dana pinjaman, namun bakal menghadapi tantangan besar…
"Seluruh dunia kini tengah mengamati Jerman. Kami memiliki tugas yang jauh melampaui batas negara dan kesejahteraan rakyat kami—baik di Uni Eropa maupun di dunia," ujar Friedrich Merz, pemimpin Partai Uni Demokrat Kristen CDU, di parlemen Jerman, Bundestag, saat ia berusaha menjelaskan keputusan untuk menanggung utang besar yang akhirnya disepakati.
Merz meyakini dana tambahan ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan besar yang akan datang di bidang keamanan dan kebijakan luar negeri.
Berikut adalah tantangan-tantangan besar yang sedianya akan 'bikin Jerman pusing tujuh keliling':
Hubungan transatlantik
Selama sepuluh tahun, Friedrich Merz memimpin Atlantik-Brücke, sebuah organisasi yang bertujuan mempererat hubungan antara Jerman dan Amerika. Namun, keyakinannya terhadap kemitraan erat antara Jerman dan Amerika Serikat sangat terguncang sejak Donald Trump terpilih kembali.
"Saya sangat terkejut dengan Donald Trump," ujar Merz, setelah Trump menyalahkan Ukraina atas perang yang sedang berlangsung. Merz merasa sangat kecewa dengan penghinaan yang dilakukan Trump dan Wakil Presiden JD. Vance terhadap Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di Gedung Putih.
Jerman sudah memiliki hubungan yang buruk dengan Trump sejak era kepemimpinan Angela Merkel, terutama karena kebijakan terbuka Merkel terhadap pengungsi. Sebuah kebijakan yang sangat tak disukai Trump. Meski Merz sering menjauhkan diri secara politik dari Merkel, pertemuan pribadi antara dirinya dan Trump tampaknya akan sangat sulit.
Ukraina
Merz, yang segera bakal jadi kanselir Jerman yang baru, sudah mendorong untuk paket dukungan tambahan bagi Ukraina—senilai setidaknya €3 miliar. Mengingat parlemen Jerman telah sepakat untuk melonggarkan "rem utang," pengalokasian dana tersebut seharusnya tidak menjadi masalah.
Namun, jika bantuan dari AS berkurang dan Eropa harus menutupi kekurangannya, Jerman mungkin perlu dana yang lebih besar untuk mendukung Ukraina.
Masalah lainnya adalah pengiriman misil jelajah Taurus ke Ukraina. Merz mendukung gagasan tersebut, sementara Partai Sosial Demokrat SPD selama kepemimpinan Kanselir Olaf Scholz menolaknya. Akan menarik untuk melihat bagaimana SPD akan merespons isu ini jika mereka kembali berperan sebagai mitra koalisi dalam pemerintahan yang akan datang.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Kerja sama pertahanan
Merz tidak tahu apakah Amerika Serikat di bawah Trump akan tetap merasa terikat dengan kewajiban NATO untuk memberikan bantuan. Karena itu, menjelang pemilu Jerman yang baru lalu, Merz menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah agar Eropa "benar-benar meraih 'kemerdekaan' dari AS" secepat mungkin.
Ia berharap dapat membangun kerja sama yang lebih erat dalam kebijakan pertahanan antar negara Eropa. Merz berencana untuk berbicara dengan negara-negara penguasa senjata nuklir seperti Prancis dan Inggris mengenai perlindungan nuklir untuk Jerman dan Eropa.
Uni Eropa
Merz menuduh pemerintahan di bawah Kanselir Olaf Scholz dari SPD telah mengabaikan kerja sama Eropa. Ia merasa hubungan Jerman dengan mitra terdekatnya, seperti Prancis dan Polandia, telah memburuk.
Merz bertekad untuk memperbaiki hubungan ini, namun tidak mudah. Presiden Prancis Emmanuel Macron tengah menghadapi tantangan besar di dalam negeri, sementara Polandia yang sebelumnya dipimpin oleh pemerintahan sayap kanan kini kembali berada di bawah kepemimpinan pro-Eropa dengan mantan Presiden Dewan Uni Eropa, Donald Tusk. Namun, hubungan Jerman dengan Prancis dan Polandia saat ini masih sangat rapuh.
Di negara-negara Uni Eropa lainnya, jumlah kalangan yang skeptis terhadap Uni Eropa dan yang mendukung populis sayap kanan semakin meningkat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle71973179_403.jpg.jpg)