Sabtu, 11 April 2026

Mengapa bendera Ferrari jadi simbol protes anti-pemerintah di Serbia?

Bendera lambang Ferrari menjadi simbol protes anti-pemerintah di Serbia sejak pertengahan 1990-an. Bagaimana lambang produsen mobil…

BBC Indonesia
Mengapa bendera Ferrari jadi simbol protes anti-pemerintah di Serbia? 

Dilihat sekilas, Ferrari, produsen mobil mewah ikonik asal Italia, mungkin tidak ada hubungannya dengan Serbia, negara Balkan yang kerap diguncang kerusuhan politik.

Namun selama hampir 30 tahun, bendera Ferrari—dengan lambang kuda jantan hitam, latar belakang merah dan garis-garis hitam-putih—menjadi pemandangan yang selalu ada pada demonstrasi di Serbia.

Ketika ratusan ribu orang yang dipimpin para mahasiswa dalam gelombang demonstrasi membanjiri jalan-jalan di Ibu Kota Serbia, Beograd, Maret lalu—menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas runtuhnya kanopi stasiun kereta api pada November yang menewaskan 16 orang—bendera Ferrari yang terkenal itu sekali lagi berkibar menantang angin.

"Setiap kali kami memprotes ketidakadilan, bendera ini selalu ada," ujar Igor Balmazovic, 54 tahun, pemilik bendera tersebut, saat berbicara kepada BBC News Serbia.

"Saya tidak pernah berpikir kami akan membutuhkannya lagi," katanya.

"Ini sangat menyedihkan. Kami telah memerangi ketidakadilan yang sama, orang-orang yang sama, selama beberapa dekade."

Protes di Serbia semakin gencar menyusul runtuhnya kanopi di Novi Sad, dan Presiden Aleksandar Vucic menghadapi krisis politik terbesar sejak berkuasa pada 2012.

Kala itu, dia masih menjabat sebagai perdana menteri.

Asal mula bendera Ferrari muncul dalam demo Serbia

Kisah keterlibatan bendera Ferrari dalam demo-demo di Serbia dimulai pada musim dingin 1996, saat terjadi aksi protes terhadap presiden saat itu, Slobodan Milosevic.

Penolakannya untuk mengakui kemenangan oposisi dalam pemilihan umum telah memicu gelombang demonstrasi di seluruh Serbia.

Igor Balmazovic, penggemar Formula 1, memutuskan untuk membawa bendera Ferrari miliknya ke aksi-aksi demonstrasi—tidak hanya sebagai titik pertemuan dengan teman-temannya, tetapi juga sebagai "simbol kekuatan dan ketekunan".

"Kami pikir ini akan membantu kami menemukan satu sama lain," kenangnya.

Namun kemudian, fungsi bendera ini justru menjadi lebih penting, tak hanya sekadar sebagai titik pertemuan.

"(Bendera) itu selalu ada, di tengah salju, hujan, bahkan ketika polisi memukuli kami. Orang-orang melihatnya setiap hari dan itu memberi mereka harapan. 'Para pengunjuk rasa ini tidak menyerah, jadi kami juga tidak akan menyerah,' pikir mereka."

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved