Afganistan di Bawah Taliban: Tiada Tempat bagi Keberagaman
Hak perempuan, pluralitas budaya dan agama kian dibatasi di Afganistan. Taliban hampir tidak menoleransi apa pun di luar tatanan agama…
Aktivis hak asasi manusia Afganistan Abdullah Ahmadi juga membenarkan meningkatnya tekanan terhadap salah satu minoritas agama terakhir yang tersisa di negara itu: "Kami telah menerima beberapa laporan yang menunjukkan bagaimana anak-anak komunitas Ismailiyah dipaksa untuk belajar di sekolah agama (Sunni). Jika mereka menolak atau tidak menghadiri kelas secara teratur, keluarga mereka harus membayar denda yang besar."
Masyarakat internasional hanya menanggapi dengan ragu-ragu pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung, keluh Ahmadi.
Ia menyerukan sanksi yang ditargetkan terhadap pejabat Taliban: "Taliban harus bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia ini."
Di Afganistan saat ini hanya ada sedikit pemeluk agama lain selain Islam. Secara historis, negara ini merupakan pusat keberagaman agama yang penting.
Nenek moyang penganut Buddha mewariskan antara lain, patung Buddha terkenal di Bamiyan, yang dihancurkan oleh Taliban pada tahun 2001.
Komunitas Yahudi bubar dengan kepergian anggota terakhirnya pada bulan September 2021, dan umat Kristen menjalankan agama mereka hampir secara rahasia.
Kekerasan terhadap Hazara, kelompok etnis Syiah, juga meningkat.
Di bawah pemerintahan Taliban, hanya satu penafsiran agama yang dianggap sah, dan perayaan serta ritual budaya juga ditekan.
Mereka bahkan melarang perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz, dengan menyebutnya "tidak Islami" dan menghapusnya dari kalender hari libur Afganistan.
Ketakutan, kemiskinan, deportasi
Situasi perempuan juga menjadi semakin buruk. Dengan demikian, separuh masyarakat mengalami penindasan sistematis.
Menurut laporan UNAMA terbaru, sekolah menengah untuk anak perempuan dari kelas 6 SD ke atas akan tetap ditutup pada tahun 2025.
Perempuan tidak diberi akses ke universitas dan pasar tenaga kerja, dan kebebasan bergerak mereka di ruang publik semakin dibatasi.
Di Kota Herat, misalnya, Taliban telah menyita beberapa becak dan memperingatkan pengemudi untuk tidak mengangkut perempuan tanpa mahramnya, anggota keluarga laki-laki.
Meskipun situasinya seeperti ini, pengungsi Afganistan terus dideportasi secara massa, termasuk banyak perempuan dan anak-anak.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 110.000 orang Afganistan diusir dari Pakistan dalam waktu satu bulan saja. Sejumlah besar deportasi juga terjadi dari Iran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle58943926_403.jpg.jpg)