Sabtu, 30 Agustus 2025

Wanita Australia Didakwa Bunuh Mertua dengan Jamur Beracun Akhirnya Bersaksi di Pengadilan

Erin Patterson dituduh bunuh tiga orang dengan jamur beracun. Ia akhirnya bersaksi dalam sidang yang sorot dunia.

Kolase Tribunnews.com/Tangkap Layar YouTube ABC News
JAMUR BERACUN. Gambar merupakan tangkap layar dari YouTube ABC News, Senin (2/6/2025). Erin Patterson, 50, dituduh membunuh tiga mantan mertuanya dengan makanan rumahan yang dicampur jamur beracun 

TRIBUNNEWS.COM - Wanita asal Australia bernama Erin Patterson, yang dituduh membunuh tiga anggota keluarganya dengan jamur beracun, akhirnya memberikan kesaksian untuk pertama kalinya.

Persidangan ini menarik perhatian internasional sejak kasusnya mencuat tahun lalu, dikutip dari CNN dan BBC.

Hari Senin (2/6/2025) kemarin menandai awal pekan keenam persidangan.

Erin Patterson bersaksi tentang hubungannya dengan suami yang telah berpisah, Simon Patterson.

Orang tua Simon, Don dan Gail Patterson, termasuk di antara tiga tamu yang meninggal usai menyantap makan siang di rumah Erin pada Juli 2023.

Saudari Gail, Heather Wilkinson, juga meninggal setelah menyantap Beef Wellington yang diduga mengandung jamur beracun.

Sementara itu, suami Heather, Ian Wilkinson, yang merupakan pendeta gereja lokal, selamat setelah dirawat intensif akibat keracunan akut jamur Amanita Phalloides.

Jamur tersebut dikenal sebagai salah satu yang paling mematikan di dunia.

Jaksa penuntut menuduh Patterson sengaja mencampurkan jamur beracun ke dalam hidangan daging sapi.

Ia disebut mengetahui lokasi jamur tersebut setelah melihatnya di sebuah situs publik.

Kuasa hukum Erin menyebut kematian para tamu sebagai “kecelakaan tragis.”

Baca juga: Fakta Pembunuhan Kepala Sekolah di Kebumen: Ritual Pesugihan hingga Racun dalam Air Kembang

Mereka mengakui Erin, 50 tahun, sempat berbohong kepada polisi.

Namun mereka bersikeras Erin tidak memiliki niat membunuh para tamunya.

Dalam kesaksiannya, Erin menggambarkan hubungannya dengan Simon pada Juli 2023 sebagai hubungan yang "fungsional saja."

Ia merasa mulai dijauhkan dari keluarga Simon dan tidak lagi diikutsertakan dalam acara keluarga.

Erin mengaku mengalami penurunan harga diri dan sempat mempertimbangkan operasi bypass lambung.

“Aku bertarung melawan harga diri rendah hampir sepanjang hidup dewasa,” kata Erin di pengadilan.

“Semakin tua aku, semakin buruk perasaanku terhadap diri sendiri,” lanjutnya.

Patterson juga menceritakan awal hubungannya dengan Simon.

Mereka bertemu pada tahun 2004 saat bekerja di Dewan Kota Monash, negara bagian Victoria.

Setelah beberapa bulan berteman, hubungan mereka berkembang menjadi asmara.

Pasangan tersebut menikah pada tahun 2007.

Karena orang tua Erin sedang berlibur saat itu, David, putra Ian Wilkinson, yang mendampinginya ke altar.

Saat bertemu Simon, Erin mengaku sebagai ateis garis keras.

Ia bahkan sempat mencoba mengajak Simon menjadi ateis juga.

Baca juga: Profil Taleb Abdulmohsen, Dokter Ateis yang Menabrak Kerumunan di Pasar Natal Magdeburg

Erin sendiri justru mengalami pengalaman spiritual dalam kebaktian pertamanya di Gereja Baptis Korumburra pada tahun 2005.

Saat itu, khotbah disampaikan oleh Ian Wilkinson.

“Saya mengalami apa yang saya sebut pengalaman religius yang sangat kuat,” ujar Erin.

Dalam kesaksian emosional lainnya, Erin mengenang proses kelahiran anak pertamanya.

Anaknya lahir melalui operasi caesar darurat setelah upaya menggunakan forceps gagal.

Ia sempat memaksa pulang dari rumah sakit lebih awal demi bisa bersama bayinya.

Erin menyebut Gail Patterson, ibu mertuanya, sangat membantu dan mendukung pasca persalinan.

“Gail sangat sabar, lembut, dan menenangkan,” katanya.

“Saya sangat lega waktu itu dia ada di sana.”

Erin juga mengungkap rumah tangganya dengan Simon sempat mengalami pasang surut.

Mereka pernah berpisah sementara saat tinggal di Perth pada tahun 2009.

Saat itu, Erin menyewa rumah kecil bersama bayinya, sementara Simon tinggal di trailer dekat rumah tersebut.

Mereka kembali bersama pada Januari 2010 dan kemudian memiliki anak kedua.

Selama hubungan mereka, Erin mengatakan kesulitan terbesar adalah komunikasi.

Baca juga: Kronologis Remaja Wanita di Bone Berupaya Racun Ayah Kandung Lewat Takjil, Mengaku Disuruh Pacar

“Kami tidak pernah bisa berkomunikasi dengan baik saat berselisih,” ujarnya.

“Kami sama-sama merasa tidak didengarkan, dan itu membuat kami saling menyakiti tanpa tahu cara menyelesaikannya.”

Erin Patterson dijadwalkan kembali bersaksi di pengadilan pada Selasa pukul 10.30 waktu setempat (01.30 GMT).

(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan