Minggu, 10 Mei 2026

Konflik Thailand Vs Kamboja

Akar Konflik Thailand-Kamboja, Wilayah Candi di Perbatasan Jadi Titik Panas

Wilayah perbatasan Thailand-Kamboja di sekitar candi kuno peninggalan Kekaisaran Khmer menjadi titik panas konflik tanah yang disengketakan.

Tayang: | Diperbarui:
Credit foto: Chan Vitharin, Nao Hayashi/UNESCO
CANDI PREAH VIHEAR - Foto diunduh dari UNESCO, Jumat (25/7/2025), memperlihatkan Candi Preah Vihear di Kamboja pada 8 Oktober 2012. 

TRIBUNNEWS.COM - Thailand dan Kamboja terlibat dalam konflik perbatasan yang berlangsung sejak beberapa dekade.

Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja terjadi di perbatasan Thailand selatan dan Kamboja utara.

Perbatasan yang disengketakan sepanjang 803 kilometer, namun wilayah yang benar-benar disengketakan hanya sebagian saja.

Wilayah yang disengketakan di antaranya zona sekitar Candi Preah Vihear (±4,6 km2), kompleks kuil Ta Moan Thom – Ta Moan Toch – Ta Krabey, yang tersebar di wilayah pegunungan Dangrek.

Garis batas di wilayah ini belum sepenuhnya ditandai atau disepakati kedua negara sejak zaman kolonial Prancis ketika menjajah Kamboja.

Konflik Thailand-Kamboja Baru-baru Ini

Pada 24 Juli 2025, Thailand menuduh Kamboja meluncurkan serangan ke perbatasannya.

Serangan tersebut merupakan ledakan konflik yang memanas sejak Mei lalu.

Pada Mei 2025, seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan dengan pasukan Thailand di Chang Bok, provinsi Oddar Meanchey, Kamboja.

Disusul tuduhan Thailand pada awal Juli 2025 yang mengatakan Kamboja menanam ranjau darat yang diledakkan dan melukai beberapa tentara Thailand di perbatasan.

Kamboja menolak tuduhan tersebut dan mengatakan ranjau itu mungkin sisa-sisa perang di masa lalu yang belum meledak.

Baca juga: Thailand Tolak Mediasi Internasional, Minta Kamboja Hentikan Serangan: Pintu Kami Terbuka

Pada 24 Juli 2025, baku tembak pecah di dekat kompleks Candi Ta Moan Thom, di wilayah yang disengketakan.

Thailand menuduh Kamboja menembak terlebih dahulu dan sejumlah tentara Kamboja yang mendekati perbatasan.

Tembakan itu dibalas oleh Thailand dengan serangan udara menggunakan jet F-16 dan mengerahkan artileri berat.

Lokasi bentrokan tersebut ada di wilayah perbatasan yang disengketakan yaitu Surin dan Sisaket (Thailand), serta Oddar Meanchey dan Preah Vihear (Kamboja).

Laporan per hari ini, 15 orang tewas di Thailand, 14 di antaranya warga sipil.

Sementara Kamboja melaporkan satu orang tentaranya tewas, lapor The Guardian.

Menyusul bentrokan terbaru, Thailand menutup perbatasan, melakukan serangan udara, menarik diplomat dari Kamboja, dan memberikan bantuan darurat non-militer untuk warga sipil yang terkena dampak.

Sementara Kamboja mengadukan Thailand ke PBB, mengkritik agresi Thailand, dan mengajukan sengketa ke ICJ.

Akar Konflik Thailand-Kamboja

Akar konflik antara dua negara Asia Tenggara tersebut bermula ketika mereka berselisih mengenai peta warisan kolonial Prancis.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Prancis menjajah wilayah Indochina (termasuk Kamboja).

Pada tahun 1904, Siam dan Prancis menandatangani perjanjian perbatasan, di mana mereka sepakat bahwa batas wilayah akan ditentukan mengikuti watershed principle (batas wilayah mengikuti punggung bukit pembagi air).

Setelah perjanjian itu, pihak Prancis (bukan tim gabungan) menyusun peta-peta perbatasan, termasuk peta yang menunjukkan kompleks Candi Preah Vihear berada di wilayah Kamboja.

Pada 1907, setelah perjanjian baru yang mengatur penyerahan wilayah Battambang, Siem Reap, dan Sisophon dari Siam ke Prancis (Kamboja), peta-peta baru dibuat oleh kartografer Prancis.

Salah satu peta tersebut menunjukkan bahwa Candi Preah Vihear berada di wilayah Kamboja, meskipun secara geografi lokasinya berada di dataran tinggi yang secara alami mengarah ke Thailand.

Candi tersebut adalah candi Hindu kuno peninggalan Kekaisaran Khmer (nenek moyang bangsa Kamboja). 

Candi Preah Vihear berada di perbatasan antara Kamboja dan Thailand, tepatnya di tebing pegunungan Dângrêk.

Thailand tidak pernah secara resmi menandatangani atau menyetujui peta tersebut.

Namun, Thailand tidak memprotes atau menolak peta itu selama beberapa dekade, dan bahkan menerima serta menggunakan salinan peta itu untuk keperluan administratif.

Beberapa dekade berikutnya, Thailand dan Kamboja mempersengketakan wilayah perbatasan tersebut.

Tahun 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan Candi Preah Vihear milik Kamboja, dan Thailand harus menarik tentaranya dari sana.

Salah satu alasan utamanya adalah bahwa Siam (Thailand) selama bertahun-tahun tidak memprotes peta 1907, sehingga dianggap mengakui secara diam-diam (tacit acceptance).

Meski telah diputuskan oleh ICJ, wilayah sekitar candi (tanah di sekelilingnya) tidak dibahas secara rinci dalam putusan, dan inilah yang memicu konflik berikutnya.

Konflik kembali memanas pada 2008, setelah UNESCO menetapkan Candi Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia, atas permintaan Kamboja.

Thailand merasa keberatan karena takut wilayah di sekitar candi ikut diklaim oleh Kamboja.

Terjadi bentrokan bersenjata kecil saat itu dan tentara dari kedua negara saling menembak di wilayah perbatasan.

Bentrokan besar terjadi selama beberapa hari di bulan Februari dan April 2011, menyebabkan ratusan warga sipil mengungsi.

Beberapa tentara dari kedua negara dilaporkan tewas dan luka-luka dalam bentrokan itu, serta serangan tersebut merusak candi bersejarah.

Organisasi negara-negara Asia Tenggara, ASEAN, membantu menengahi agar kedua negara tenang.

Beberapa tahun kemudian pada 2011, Kamboja kembali mengajukan kasus ke ICJ, minta interpretasi ulang putusan tahun 1962.

Tahun 2013, ICJ menyatakan wilayah di sekitar kuil juga termasuk milik Kamboja, dan Thailand harus mundur dari zona itu.

Sejak putusan ICJ tersebut, konflik mulai mereda, namun perbatasan tetap dijaga ketat oleh kedua negara.

Hubungan Thailand–Kamboja secara umum membaik, meskipun isu perbatasan tetap sensitif.

4 Candi Utama di Perbatasan yang Disengketakan

CANDI PREAH VIHEAR - Foto diunduh dari UNESCO, Jumat (25/7/2025) memperlihatkan Candi Preah Vihear di Kamboja.
CANDI PREAH VIHEAR - Foto diunduh dari UNESCO, Jumat (25/7/2025) memperlihatkan Candi Preah Vihear di Kamboja pada 8 Oktober 2012. (Credit Photo: Chan Vitharin, Nao Hayashi/UNESCO)

Selama beberapa dekade, bentrokan terjadi di perbatasan kedua negara, termasuk konflik di sekitar candi.

Karena kedekatan sejarah dan budayanya, kedua negara merasa memiliki tanggung jawab nasional terhadap candi tersebut sebagai bagian dari negara.

Di bawah ini sejumlah candi di wilayah yang disengketakan.

1. Candi Preah Vihear

Pada 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan Candi Preah Vihear milik Kamboja, tetapi akses ke kuil ini dari sisi Thailand, sehingga memicu perselisihan wilayah sekitar candi seluas ± 4,6 km⊃2;.

Tahun 2008–2011, bentrokan militer berkali-kali terjadi, menewaskan puluhan orang dan membuat ribuan warga mengungsi.

ICJ kemudian mempertegas kembali pada tahun 2013 bahwa seluruh area kuil termasuk tangga akses berada di bawah kedaulatan Kamboja, tetapi Thailand belum sepenuhnya menerima batas wilayah ini.

2. Candi Ta Moan Thom

Candi Ta Moan Thom terletak di wilayah perbatasan, akses utama melalui Thailand, namun Kamboja mengklaim lokasinya di wilayah mereka.

Thailand menjaga kuil ini dengan militer, yang dianggap provokasi oleh Kamboja.

Bentrokan bersenjata tercatat pada 2009–2011, terutama saat patroli atau pembangunan jalan militer oleh kedua pihak, lapor The New York Times.

3. Candi Ta Moan Toch

Candi Ta Moan Toch berada berdekatan dengan Candi Ta Moan Thom, termasuk dalam kompleks kuil yang sama tapi dengan struktur tersendiri.

Konfliknya tidak seintens Candi Ta Moan Thom, tetapi tetap jadi bagian dari kawasan rawan karena klaim tumpang tindih di zona hutan perbatasan.

4. Candi Ta Krabey (atau Ta Kwai)

Candi Ta Krabey terletak di perbatasan Provinsi Oddar Meanchey (Kamboja) dan Surin (Thailand).

Kedua negara mengklaim kuil ini sebagai warisan budaya mereka, dan bentrokan militer besar terjadi April 2011.

Kawasan sekitar kuil sering dijadikan basis militer oleh kedua pihak, lapor Al Jazeera.

Semua kuil tersebut dibangun oleh Kerajaan Khmer (nenek moyang bangsa Kamboja), tapi banyak yang sekarang berada di perbatasan dengan Thailand.

Di sisi lain, peta warisan kolonial Prancis tidak selalu jelas membatasi lokasi kuil dan perbatasan negara.

Thailand dan Kamboja sama-sama ingin menjaga warisan budaya dan simbol nasionalisme dengan memiliki candi-candi tersebut.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved