Konflik Rusia Vs Ukraina
Medvedev Ingatkan AS 'Rusia Punya Nuklir', Trump Balas Kirim 2 Kapal Selam Nuklir
Presiden AS Trump dan mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev ribut di media sosial, AS kirim 2 kapal selam nuklir untuk mengawasi Rusia.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengirimkan dua kapal selam nuklir ke dekat Rusia setelah mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional, menulis sebuah cuitan.
Cuitan tersebut dinilai provokatif oleh Trump sehingga AS memerintahkan dua kapal selam nuklirnya untuk bersiaga di dekat Rusia.
Medvedev menulis dalam akunnya di platform X @MedvedevRussiaE, dengan menyindir masalah AS yang membekingi Israel melawan Iran dan pendahulu Trump, Joe Biden, yang memberikan dukungan penuh untuk Ukraina.
"Trump sedang memainkan permainan ultimatum dengan Rusia: 50 hari atau 10 hari… Dia harus ingat dua hal:
1. Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran.
2. Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan terjebak di jalan Sleepy Joe!"
Trump berulang kali menegaskan ancamannya terhadap Rusia jika Presiden Rusia Vladimir Putin tidak segera menghentikan perang di Ukraina.
Bulan lalu, Trump mengancam akan menerapkan tarif dagang 100 persen ke Rusia dan sanksi lainnya termasuk menerapkan tarif sekunder terhadap mitra dagang Rusia.
Misalnya, ada negara lain seperti China, India, atau Turki, yang masih berdagang atau membantu Rusia, maka AS akan menaikkan pajak impor barang dari negara-negara tersebut.
Setelah itu, Trump memberikan ultimatum kepada Putin, memberikan waktu 10 hari (hingga 8 Agustus) untuk mengakhiri perang atau menghadapi ancaman AS.
Menanggapi ancaman Trump, Medvedev menulis cuitan tersebut.
Namun, cuitan yang ditulis pada Senin, 28 Juli lalu itu memicu kemarahan Trump.
Trump menyebutkan hal itu sebagai provokasi terhadap AS dan menganggap Medvedev bertindak seolah ia masih menjadi presiden Rusia setelah masa jabatannya pada tahun 2008 hingga 2012.
Baca juga: Zelensky Minta Barat Gulingkan Rezim Putin, Sita Aset Rusia untuk Akhiri Perang
Trump menilai cuitan Medvedev dapat membahayakan Rusia.
"... Rusia dan AS hampir tidak berbisnis bersama. Mari kita pertahankan seperti itu, dan beri tahu Medvedev, mantan Presiden Rusia yang gagal, yang merasa dirinya masih Presiden, untuk berhati-hati dalam berbicara. Dia memasuki wilayah yang sangat berbahaya!" cuit Trump di akun Truth Social @realDonaldTrump pada Kamis (31/7/2025).
Beberapa jam kemudian, Medvedev menanggapi dengan sinis, mengklaim bahwa komentar marah Trump menegaskan bahwa Rusia benar dan berada di jalur yang benar.
Dmitry Medvedev meminta Trump untuk mengingat Rusia memiliki kemampuan nuklir era Soviet, yang dianggapnya sebagai pilihan terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Amerika-Serikat-Donald-Trump-mantan-presiden-Rusia-Dmitry-Medvedev.jpg)