Krisis Energi Meluas, Warga Pakistan Protes Pemadaman Listrik Berkepanjangan
Jutaan warga kini mengandalkan genset pribadi atau panel surya jika mampu, sedangkan mereka yang tidak mampu harus hidup dalam kegelapan.
Di Lahore, misalnya, tagihan naik dari PKR 10.000 menjadi PKR 22.000 hanya dalam dua bulan.
Pasokan Air Bersih
Tarif listrik tahun 2025 tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021, seiring kebijakan pemerintah yang mematuhi tuntutan IMF untuk mencabut subsidi.
Sementara, masyarakat harus membayar lebih mahal untuk listrik yang kerap tak mereka terima.
Dampaknya terasa nyata: malam tanpa kipas angin atau pemanas, makanan basi karena kulkas mati, hingga anak-anak yang tak bisa belajar karena lampu padam.
Di kawasan miskin, warga menyalakan lilin atau membakar kayu demi sedikit kehangatan.
Pasokan air bersih pun terdampak, karena pompa air ikut mati saat pemadaman.
Kota-kota seperti Karachi, Lahore, dan Hyderabad mengalami krisis air keran.
Rumah sakit pun kesulitan menjaga alat-alat medis tetap menyala, mengandalkan genset semampunya.
Krisis ini juga melumpuhkan sektor industri.
Banyak pabrik tak mampu memenuhi target produksi karena listrik mati mendadak.
Asosiasi Pabrik Tekstil Seluruh Pakistan berulang kali memperingatkan bahwa krisis energi ini menggerogoti industri ekspor utama negara.
Pada Januari 2023 saja, satu kali pemadaman listrik nasional mengakibatkan kerugian sekitar USD 70 juta bagi sektor tekstil.
Diperkirakan, krisis energi memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) Pakistan hingga 3–4?lam beberapa tahun terakhir.
Di tahun fiskal 2025, PDB hanya tumbuh 2,7%, dengan sektor manufaktur besar mengalami kontraksi 1,5%. Kota industri seperti Faisalabad telah menyaksikan ratusan pabrik gulung tikar karena krisis listrik, menyebabkan kehilangan lapangan kerja secara masif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-mati-listrik-2.jpg)