Selasa, 6 Januari 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Trump Sentil Biden, Ukraina Sulit Menang karena Dulu Dilarang Serang Rusia

Presiden AS Donald Trump penyindir mantan presiden AS Joe Biden karena dulu larang Ukraina serang Rusia, sehingga Ukraina sulit menang saat ini.

Kantor Presiden Ukraina
ZELENSKY KUNJUNGI AS - Foto diambil dari Kantor Presiden Ukraina, Jumat (22/8/2025) memperlihatkan Presiden Ukraina Zelensky (kanan) berfoto bersama Presiden AS Donald Trump (kiri) di Gedung Putih saat Zelensky berkunjung ke Washington, AS, untuk membicarakan masalah perang Rusia-Ukraina, pada hari Senin (18/8/2025). 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik pemerintahan mantan presiden Joe Biden karena mencegah Ukraina menyerang wilayah Rusia, dengan mengatakan mustahil memenangkan perang dengan cara itu.

Secara khusus, Trump membandingkan larangan serangan terhadap Rusia dengan tim olahraga hebat yang memiliki "pertahanan fantastis" tetapi tidak diizinkan bermain "menyerang".

Trump yakin bahwa dengan cara tersebut, Ukraina tidak memiliki peluang untuk menang dalam perangnya melawan Rusia.

"Hal yang sama berlaku untuk Ukraina dan Rusia. Joe Biden yang licik dan sangat tidak kompeten tidak mengizinkan Ukraina berperang, melainkan hanya untuk membela diri. Dan bagaimana hasilnya?" ujar Trump dalam unggahannya di platform Truth Social pada hari Kamis (21/8/2025).

Ia menegaskan kembali bahwa Rusia tidak akan melancarkan perang skala penuh terhadap Ukraina pada tahun 2022 jika ia menjadi presiden saat itu, dan menilai kemungkinan terjadinya serangan sebagai "nol".

"Masa depan yang menarik!!!" tambah presiden Amerika.

Setelah unggahan yang mengkritik Biden ini, Trump mengunggah kolase dua foto hitam putih.

UNGGAHAN TRUMP - Foto tangkapan layar diambil dari akun @realDonaldTrump di platform Truth Social, memperlihatkan postingan Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis (21/8/2025) yang menyindir kebijakan mantan presiden AS Joe Biden yang dulu melarang Ukraina menyerang wilayah Rusia. Trump membandingkan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus 2025 (foto atas), dengan pertemuan Wakil Presiden AS saat itu, Richard Nixon, dan Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet, Nikita Khrushchev, pada Juli 1959 (foto bawah).
UNGGAHAN TRUMP - Foto tangkapan layar diambil dari akun @realDonaldTrump di platform Truth Social, memperlihatkan postingan Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis (21/8/2025) yang menyindir kebijakan mantan presiden AS Joe Biden yang dulu melarang Ukraina menyerang wilayah Rusia. Trump membandingkan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus 2025 (foto atas), dengan pertemuan Wakil Presiden AS saat itu, Richard Nixon, dan Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet, Nikita Khrushchev, pada Juli 1959 (foto bawah). (Truth Social/@realDonaldTrump)

Foto pertama diambil dari pertemuannya dengan pemimpin Kremlin Vladimir Putin di Alaska pada hari Jumat, 15 Agustus 2025. 

Foto kedua diambil dari apa yang disebut "debat dapur" antara Wakil Presiden AS saat itu, Richard Nixon, dan Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet, Nikita Khrushchev, pada Juli 1959.

Kemudian di Moskow, di paviliun pada pembukaan Pameran Nasional Amerika, di mana model rumah Amerika modern ditempatkan, dengan dapur dan peralatan baru, Nixon dan Khrushchev terlibat dalam perdebatan publik tentang sistem mana yang lebih baik — kapitalisme atau sosialisme.

Para politisi berdebat di antara perabotan dapur, sehingga para jurnalis menyebutnya "debat dapur", lapor Suspilne.

Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.276: Kyiv Uji Coba Rudal Flamingo, Jangkauan Capai 3.000 Kilometer

Joe Biden Larang Ukraina Serang Wilayah Rusia

Pada masa awal konflik pada tahun 2022, pemerintahan presiden AS Joe Biden melarang Ukraina menggunakan senjata Barat untuk menyerang wilayah Rusia, termasuk target militer di seberang perbatasan. 

Larangan tersebut erat kaitannya dengan senjata dan bantuan militer dari AS kepada Ukraina.

Hal ini karena Rusia menganggap penggunaan senjata AS di wilayahnya sama dengan aksi langsung dari AS, yang dapat menyeret AS ke risiko konfrontasi langsung dengan Rusia.

Selain itu, AS berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut dan menjaga dukungan internasional tetap stabil.

Pada akhir Mei 2024, Joe Biden mulai mengizinkan Ukraina untuk menyerang target Rusia di perbatasan Kharkiv, namun tetap melarang serangan lebih dalam, lapor BBC.

Selanjutnya, AS mengizinkan Ukraina untuk menggunakan roket ATACMS (Army Tactical Missile System) oleh Ukraina terhadap target di dalam Rusia, terutama di wilayah Kursk yang saat itu disusupi oleh Ukraina.

Laporan AP News menyebut keputusan itu diambil terkait meningkatnya ancaman, termasuk pasukan Korea Utara yang membantu Rusia.

Selain itu, The Guardian melaporkan serangan pertama dengan ATACMS juga dilakukan terhadap wilayah Bryansk, Rusia, yang merupakan wilayah perbatasan.

Setelah memenangkan pemilihan presiden AS pada bulan Desember 2024, Trump menyatakan ia menganggap izin yang dikeluarkan oleh Washington kepada Angkatan Bersenjata Ukraina untuk menggunakan senjata Amerika untuk menyerang jauh ke wilayah Rusia adalah berbahaya.

Sejak Trump kembali ke Gedung Putih, ia menyerukan kepada Rusia dan Ukraina untuk melakukan perundingan guna mengakhiri perang.

Setelah melalui proses yang panjang, Trump mengatakan Zelensky kemungkinan akan bertemu dengan Putin, setelah ia bertemu dengan Zelensky dan para pemimpin Eropa pada 18 Agustus lalu.

Zelensky menyatakan siap dan bersedia untuk bertemu dengan Putin, sementara Moskow belum mengonfirmasi kabar tersebut.

Perang Rusia di Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 merupakan buntut panjang dari ketegangan antara Ukraina dan Rusia sejak pecahnya Uni Soviet pada Desember 1991.

Dalam pidato di hari invasinya, Putin mengatakan ia menghilangkan kemampuan militer Ukraina yang dianggap mengancam Rusia, menyingkirkan unsur "neo-Nazi" yang dituduh ada dalam pemerintahan Ukraina, membela etnis Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk dari dugaan penindasan.

Selain itu, Rusia ingin mencegah Ukraina bergabung dengan aliansi NATO atau menjadi basis Barat, dan menolak keberadaan militer NATO di perbatasan Rusia.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved