Rabu, 8 April 2026
Deutsche Welle

Di Tengah Rivalitas AS, Cina Percepat Industri Teknologi

Cina berkomitmen memperdalam investasi di industri berteknologi tinggi dan inovasi ilmiah. Ini dianggap sebagai kunci memperkuat keamanan…

Deutsche Welle
Di Tengah Rivalitas AS, Cina Percepat Industri Teknologi 

Pada sidang tahunan parlemen, Cina menyatakan komitmennya untuk memperdalam investasi di industri berteknologi tinggi dan inovasi ilmiah. Hal ini dianggap sebagai kunci untuk memperkuat keamanan dan kemandirian nasional di tengah ketegangan geopolitik serta persaingan yang kian meningkat dengan Amerika Serikat (AS).

Dalam pembukaan sidang tahunan parlemen yang berlangsung pada Kamis (05/03), Perdana Menteri Li Qiang memuji kemampuan Cina bertahan dari kenaikan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Namun, ia menegaskan bahwa "multilateralisme dan perdagangan bebas berada di bawah ancaman serius," sambil mengumumkan kenaikan anggaran pertahanan nasional sebesar 7%, serta peningkatan anggaran riset dan pengembangan dengan persentase yang sama.

Beijing kini menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,5% hingga 5%. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan capaian pertumbuhan 5% pada 2025. Meski begitu, hal ini membuka ruang lebih besar untuk menekan kelebihan kapasitas industri dan menyeimbangkan kembali struktur ekonomi.

Rencana Lima Tahun ke-15 Cina menjanjikan investasi pada inovasi dan peningkatan industri, serta kenaikan signifikan yang tidak dirinci pada porsi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB).

Komitmen tersebut mengindikasikan kekhawatiran Beijing bahwa lemahnya permintaan domestik bisa membuat negara perekonomian terbesar kedua di dunia itu terlalu bergantung pada ekspor sebagai motor pertumbuhan. Namun, pemerintah juga tidak ingin meninggalkan agenda peningkatan kompleks industri berskala besar yang membuatnya unggul dalam rantai pasok atas AS dan sekutunya.

"Ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah sangat tajam, ekspektasi pasar lemah dan terdapat banyak risiko serta potensi bahaya di sektor-sektor kunci," ujar Li, seraya menyinggung kemerosotan sektor properti yang berkepanjangan serta tekanan pada keuangan pemerintah daerah.

Para ekonom menilai target pertumbuhan yang lebih rendah memberi ruang bagi Cina untuk bereksperimen dengan penyesuaian atas kelebihan kapasitas industri. Sebelumnya, kelebihan kapasitas disebut menjadi pemicu tekanan deflasi kuat. Namun, mereka mengingatkan bahwa langkah tersebut tidak menggeser model pertumbuhan yang berfokus pada produksi.

Beijing mungkin akan mentoleransi konsolidasi di sektor-sektor bernilai tambah rendah. Namun, para analis menyebut manufaktur tetap dipandang sebagai tulang punggung keamanan nasional.

"Beijing berupaya mengelola 'pendaratan terkendali' dalam pertumbuhan sembari membangun ekonomi baru yang berbasis teknologi, bukan lagi properti," kata Andy Ji, analis valuta asing dan suku bunga Asia di ITC Markets.

"Ini adalah penyeimbangan ulang yang berisiko tinggi, di mana pemerintah mempertaruhkan segalanya pada kecerdasan buatan dan manufaktur maju untuk menggantikan mesin pertumbuhan lama yang bergantung pada properti," ujarnya.

Rencana lima tahun itu menargetkan peningkatan nilai tambah industri inti ekonomi digital menjadi 12,5?ri PDB. Pemerintah juga akan meluncurkan kebijakan untuk membentuk pasar data nasional yang terintegrasi serta membangun sistem pencegahan risiko keamanan kecerdasan buatan.

Komitmen untuk meningkatkan belanja riset dan pengembangan setara dengan kenaikan 40% selama periode rencana lima tahun. Mandat pendanaan tersebut dirancang untuk mengembangkan "kekuatan produktif baru" di bidang kecerdasan buatan dan semikonduktor, sekaligus melindungi Cina dari pembatasan ekspor AS.

Cina juga berjanji mendukung pengembangan "terobosan" di berbagai sektor, mulai dari benih pertanian dan biomedis hingga semikonduktor dan peralatan mesin.

Rencana stimulus yang stabil

Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, menyebut target pertumbuhan yang lebih rendah sebagai "langkah besar" yang menunjukkan bahwa "kualitas pertumbuhan lebih penting daripada kecepatan pertumbuhan" bagi Beijing.

Dari sisi stimulus, Cina merencanakan defisit anggaran sebesar 4?ri PDB, relatif sama dengan tahun lalu. Pemerintah mempertahankan kuota penerbitan utang khusus pemerintah pusat sebesar 1,3 triliun yuan (sekitar Rp3.183 triliun) serta pemerintah daerah sebesar 4,4 triliun yuan (sekitar Rp10.773 triliun).

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved