Dari Penengah Jadi Penonton: Melemahnya Pengaruh Eropa atas Iran
Eropa pernah menjadi aktor penting dalam diplomasi dengan Iran dan membantu menengahi kesepakatan nuklir tahun 2015. Namun krisis…
Di titik ini, kedua analis berbeda pendapat. Barnes-Dacey pesimistis Eropa bisa kembali berpengaruh tanpa perubahan besar dalam kemauan politiknya. Sebaliknya, Mirkhan lebih optimistis. Ia menilai Eropa mungkin tidak lagi berperan besar dalam fase militer konflik, tetapi masih bisa memainkan peran penting setelahnya—misalnya jika rezim Republik Islam Iran runtuh.
Menurutnya, Eropa dapat mendukung tokoh oposisi, memfasilitasi dialog di antara mereka, dan membantu merancang kerangka demokrasi bagi masa transisi. Dengan kata lain, Eropa harus bergerak dari sekadar pernyataan simbolis menuju kekuatan pendorong yang nyata.
Namun bagi Barnes-Dacey, kesimpulannya sudah jelas: Jika krisis Iran menjadi ujian apakah Uni Eropa benar-benar aktor geopolitik yang berarti, maka "Eropa telah gagal.”
Krisis Iran sekali lagi memperlihatkan kesenjangan antara ambisi geopolitik Eropa dan kemampuannya untuk bertindak. Mengenai Ukraina, Uni Eropa telah menunjukkan bahwa mereka masih dapat berperan penting ketika berbicara dengan satu suara. Mengenai Iran, Uni Eropa masih harus membuktikan bahwa mereka dapat menjadi lebih dari sekadar "penonton".
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle75750500_403.jpg.jpg)